Respirasi pada Tumbuhan dan Hewan

HASIL PENGAMATAN

KEGIATAN 1 : MENGUKUR RESPIRASI PADA TUMBUHAN DAN HEWAN

Tabel laju respirasi pada tumbuhandan hewan

Pergeseran eosin 5/10 menit

 

Jumlah Rerata
Kecambah 0,01 0,03 0,04 0,11

 

0,19 0,0478
Hewan Kecil 0,15 0,4 0,24 0,79 0.94
  1. Tumbuhan

Berat Kecambah          : 3 gram

Lama pengukuran         : 20 menit = 2/3 jam

Konsumsi                  : 0,19 mL

Laju respirasi                : 0,0032 mL/jam/gram

  1. Hewan

Berat hewan                 : 1,1 gram

Lama pengukuran         : 15 menit = 1/4 jam

Konsumsi                  : 0,79 mL

Laju respirasi                : 2,87 ml/jam/gram

Gambar hasil percobaan :

KEGIATAN 2 : KANDUNGAN CO2 PADA UDARA PERNAPASAN

Tabel hasil percobaan

Botol Tingkat kekeruhan (10 kali penghirupan dan penghembusan)
Sebelum Sesudah
A Bening Tidak terjadi perubahan
B Bening Keruh

Gambar hasil percobaan :

keadaan air kapur setelah percobaan, yang botol kanan (B) menjadi lebih keruh karena diberikan karbondioksida yang lebih banyak dari botol sebelah kiri (A)

PEMBAHASAN

KEGIATAN 1

Respirasi adalah suatu proses katabolisme, yaitu proses pembebasan energy kimia yang diperoleh dari pemecahan senyawa organic menjadi dan O yang terkandung dalam senyawa organic pada sel hidup yang berguna untuk berbagai aktivitas tubuh. (Tim Biologi Yudhistira.2000.Biologi.Jakarta:Erlangga)

Pada tumbuhan sukar menunjukkan laju respirasinya. Hal ini disebabkan tumbuhan itu sedang mengalami fotosintesis. Sedangkan proses respirasi merupakan kebalikan dari proses fotosintesis.

Fotosintesis merupakan proses anabolisme

Sedangkan respirasi adalah proses katabolisme

kkal

Fotosintesis merupakan proses sintesis senyawa organic (glukosa) dari zat anorganik (CO2 dan H2O) dengan bantuan energi cahaya matahari. Dalam proses ini energi radiasi diubah menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH + H yang selanjutnya akan digunakan untuk mereduksi CO2 menjadi glukosa. Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol CO2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Perbedaan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dengan jumlah O2 yang digunakan biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ. Nilai Rq ini tergantung pada bahan atau substrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989)

Pada praktikum ini kita telah mengamati proses respirasi pada kecambah kacang hijua dan jangkrik. Alasan mengapa bahan yang digunakan adalah kecambah kacang hijua, karena tumbuhan ini merupakan suatu organisme yang walaupun masih belum berkembang dengan sempurna tetapi sudah bias melakukan respirasi.

Pada pengamatan ini digunakan alat yang disebut respirometer, alat ini berfungsi untuk mengukur jumlah oksigen yang diperlukan dalam respirasi. Di dalam tabung respirometer diletakkan kapas yang sudah diberikan kristal KOH 10%. Kapas yang sudah diberikan kristal KOH 10% ini akan mengikat oksigen yang ada di dalam tabung respirometer, sehingga di dalam tabung respirometer terjadi perebutan oksigen antara larutan KOH 10% dengan kecambah pada tabung 1 dan dengan jangkrik pada tabung 2. kecambah kacang hijau maupun jangkrik tidak bias mengikat oksigen yang dibebaskan oleh larutan KOH 10% karena yang diperlukan kecambah kacang hijau dan jangkrik adalah oksigen bebas, bukan oksigen yang terikat sehingga lama-kelamaan oksigen yang ada didalam tabung respirometer habis dan akhirnya oksigen dari luar akan tertarik masuk ke dalam tabung respirometer. Masuknya oksigen dari luar ini ditandai dengan naiknya larutan eosin yang dimasukkan dalam pipa kaca.

Dari hasil pengamatan dan data yang kami peroleh terjadi perbedaan laju pergerakan eosin antara sampel hewan dan tumbuhan  kelompok 1-7 . Hal ini terjadi karena laju respirasi berhubungan dengan komsentrasi Oksigen ( ), karbondioksida dan ion Hidrogen di dalam darah. Kadar  berbanding terbalik dengan kadar CO2 dan H+. Apabila  konsentrasi prodik   dan  meningkat, maka laju respirasi juga akan meningkat. Sebaiknya jika kadar  yang masuk berkurang, maka laju respirasi menurun.  (Kaseng, Adnan dkk.2006.Biologi.Jakarta:Widya Utama)

Dari hasil pengamatan hewan dan rumbuhan yang memiliki massa lebih besar lebih banyak menarik eosin hal ini terjadi karena organisme yang memiliki massa lebih memiliki sel lebih banyak dari pada yang bermassa ringan, sehingga makin banyak sel untuk yang membutuhkan  oksigen. Pernapasan pun semakin cepat (http://tutorjunior.wordpress.com/2008/03/16/faktor-yang-mempengaruhi-kecepatan-respirasi-makhluk-hidup/). Selain itu semakin banyak hewan yang ditempatkan pada tabung respirometer maka semakin cepat pergerakkan eosin.

Pada tumbuhan terjadi perbedaan respirasi yang disebabkan oleh umur tumbuhan, tersedianya substrat, Ketersediaan Oksigen. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Selain itu tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi pada tumbuhan , Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.

Selain massa, cepat atau lambatnya pernapasan dipengaruhi oleh factor :

1. Usia

Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.

2. Suhu

Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen.

 

 

 

 

3. Gaya Hidup

Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.

4. Status Kesehatan

Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.

5.Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.

6. Jenis kelamin

Belalang betina dan belalang jantan memiliki kecepatan respirasi yang berbeda.

7. Ketinggian

Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup belalang. Sebagai akibatnya belalang pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.

8. Polusi udara

Dengan adanya polusi udara, kecepatan pernapasan kita terganggu. Bernapas menjadi lebih menyesakkan sehingga kecepatan pernapasan menurun, jumlah oksigen yang dihisap menurun, kita pun menjadi lemas.

Tabel antara laju respirasi dengan berat kecambah dan hewan dari tiap kelompok

No Berat Jangkrik Laju respirasi (ml/jam/gram)
1 - -
2 0,28 1,0125
3 - -
4 3,6 2,643
5 1,1 1,83
6 1,1 2,87
7 1,4 1,1
No Berat Kecambah Laju respirasi (ml/jam/gram)
1 3 4,1
2 2 2,055
3 0,4 3,48
4 6,7 0,256
5 - -
6 3 0,0032
7 1,4 0,42

KEGIATAN 2

Pada kegiatan percobaan kali ini bertujuan untuk membuktikan dihasilkannya gas CO2 dalam pernapasan.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan larutan air kapur yang telah didiamkan selama beberapa saat sehingga endapannya terdapat pada dasar wadah, karena kita membutuhkan air kapur yang telah jernih. Air kapur yang digunakan ditaruh dalam gelas kimia dengan takaran isi yang sama, kemudian diberi sumbat dengan dua lubang selang. Pada percobaan tersebut hal yang dilakukan yaitu menghirup udara di salah satu wadah tertutup  berisi air kapur yang kemudian menghembuskan udara tersebut ke wadah lain yang tertutup berisi air kapur pula.

Pada percobaan kali ini kita menggunakan air kapur, karena air kapur dengan rumus kimia Ca(OH)2 memiliki sifat dapat bereaksi dengan CO2 membentuk kalsium karbonat yang tidak larut sehingga akan  terdapat endapan putih di air kapur tersebut.

Pada percobaan kali ini, sebenarnya kita hanya memindahkan udara yang terdapat dalam wadah A ke wadah B dengan cara menghirup udara tersebut. Udara yang kita hirup sebenarnya tidak mengalami proses respirasi atau pertukaran udara dalam paru-paru. Tapi, mengapa pada wadah  B terjadi pengkeruhan air kapur yang menandakan bahwa terdapat reaksi air kapur tersebut dengan CO2 ??

Persamaan reaksi :

Ca(OH)2 +           CO2 →    CaCO3 +         H2O

= mengendap

Hal ini terjadi karena air kapur dalam wadah A juga mengandung CO2 dari reaksi penguraian CaCO3 yang terdapat dalam air kapur tersebut.

Air kapur yang terdapat pada wadah B menjadi semakin keruh karena terjadi penambahan CO2 yang kita hembuskan dari wadah A, sehingga terjadi reaksi antara air kapur dengan CO2 yang membuat ait kapur menjadi keruh. Pada saat percobaan wadah tertutup A yang dihirup udaranya tidak terjadi perubahan yang signifikan, walaupun seharusnya air kapur di wadah A tersebut menjadi semakin bening karena kandungan CO2 di dalamnya berkurang. Hal ini terjadi karena percobaan hanya dilakukan sebanyak 10 kali penghirupan, apabila percobaan dilakukan lebih banyak pasti akan mendapatkan hasil yang mendekati kesamaan dengan teori.

Dari percobaan tersebut kita dapat melihat bahwa semakin besarnya atau banyaknya kandungan CO2 dalam wadah tertutup tersebut menyebabkan air kapur menjadi semakin keruh sedangkan semakin sedikti kandungan CO2 dalam wadah tertutup tersebut menyebabkan air kapur menjadi semakin bening, walaupun dalam percobaan tidak diperoleh hasil yang signifikan.

Dari percobaan tersebut, kita dapat membuktikan bahwa respirasi menghasilkan CO2 dengan bukti semakin keruhnya air kapur akibat berreaksi dengan CO2 hasil respirasi tersebut.

Dari percobaan ini pula kita dapat mengetahui bahwa air kapur dapat dijadikan indikator terjadinya respirasi dengan reaksinya terhadap CO2 sebagai hasil dari respirasi tersebut.

KESIMPULAN

  1. Semakin besar atau banyak kandungan CO2 dalam udara pernapasan maka semakin keruh air kapur, semakin sedikit kandungan CO2 dalam udara pernapasan maka air kapur akan semakin bening.
  2. Dalam Respirasi dihasilkan CO2
  3. Air kapur dapat dijadikan indikator adanya respirasi dengan menggunakan reaksinya terhadap CO2.
  1. Semakin besar massa semakin besar laju respirasi yang dihasilkan
  1. Beberapa foktor yang mempengaruhi laju respirasi
    1. Usia
    2. Suhu
    3. Gaya hidup
    4. Status Kesehatan
    5. Narkotika
    6. Jenis Kelamin
    7. Ketinggian
    8. Polusi Udara
    9. Berat tubuh
    10. Kelembaban udara
    11. Konsentrasi oksigen dan karbondioksida
  2. dalam praktikum mungkin saja terjadi kesalahan seperti kebocoran pada selang yang menyebabkan hasil dari pengamatan tidak sesuai dengan teori, seperti yang terdapat dalam grafik antara laju respirasi dengan massa organisme, seharusnya semakin besar massa dari organisme maka laju respirasi semakin besar pula sesuai dengan teorinya, namun grafik tersebut memiliki kesalahan-kesalahan yang berasal dari sata yang kurang akurat. Ketidakakuratan data dapat disebabkan kesalahan prosedur praktikum atau karena terjadi kebocoran pada pipa karena kurang diberi vaselin pada setiap persambungan.

DAFTAR PUSTAKA

Annisa syabatin.2007. diunduh dari http://annisanfushie.wordpress.com/2008/12/07/respirasi-pada-tumbuhan/.13 November. 20:53

Diunduh dari http://tutorjunior.wordpress.com/2008/03/16/faktor-yang-mempengaruhi-kecepatan-respirasi-makhluk-hidup/.13 november. 21:00

Kaseng, Adnan dkk.2006.Biologi.Jakarta:Widya Utama

Sihombing, Betsy.et al. 2000.Panduan Praktikum Biologi Umum. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Jakarta

Sutarmi Tjitrosomo, Siti.1985.BOTANI UMUM 2.Bandung: Angkasa

Yudhistira.2000.Biologi.Jakarta:Erlangga

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s