Difusi, Osmosis, Plasmolisis

HASIL PENGAMATAN

Percobaan 1 : Difusi Gas

Tabel Hasil Pengamatan

Gas Perubahan Kertas Lakmus Waktu/menit
HCl - -
OH BiruBiru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

 

1’312’5

2’43

3’25

4’11

5’26

6’32

7’13

8’12

8’22

Percobaan 2 : Difusi Zat Cair

Tabel hasil pengamatan

Zat Cair Waktu/ 4 x 5 menit Jarak
Tinta merah 12

3

4

4,5 cm8 cm

11 cm

12 cm

Tinta Biru 12

3

4

5 cm8,5 cm

11 cm

12 cm

Percobaan 3 : Osmosis dan Turgor (Buah Pepaya)

Data Pengamatan

Cairan perendam Sebelum percobaan Setelah percobaan
Air ledeng Panjang : 5,7 cmLebar     : 1 cm

Tebal     : 1,5 mm

Panjang : 5,8 cmLebar     : 1 cm

Tebal     : 2 mm

Larutan garam 20% Panjang : 5,7 cmLebar     : 1 cm

Tebal     : 2 mm

Panjang : 5,5 cmLebar     : 1 cm

Tebal     : 1,5 mm

Pertanyaan

  1. faktor–faktor yang mempengaruhi terjadinya osmosis pada sel hidup
  • ukuran zat terlarut      : semakin banyak zat terlarut maka peristiwa          terjadinya osmosis akan semakin cepat. Karena zat terlarut memiliki tekanan osmotik yang berfungsi untuk memecah zat pelarut bergerak melalui membrane semipermeable.
  • Tebal membrane        : semakin tebal suatu membrane akan memperhambat terjadinya osmosis. Karena dapat menyebabkan semakin sulitnya zat terlarut menembus membrane tersebut.
  • Luas permukaan
  • Jarak zat pelarut dan zat terlarut
  • Suhu
  1. Apakah ada perubahan antara yang direndam dengan air ledeng dengan air garam 20% ?

Ya, papaya yang direndam air ledeng mengalami pembesaran dari ukuran semula. Hal ini dikarenakan vakuola yang terdapat di dalam papaya menyerap air yang ada di sekitarnya. Dan terjadilah proses turgor. Sedangkan, papaya yang direndam dengan air garam mengalami penyusutan karena vakuola di dalam papaya mengeluarkan air dari dalam vakuola. Dan terjadilah proses plasmolisis.

  1. Perbedaan antara proses difusi dengan osmosis

Pada dasarnya, osmosis termasuk peristiwa difusi. Difusi adalah perpindahan zat, dengan atau tanpa melewati membrane, dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya rendah. Pada osmosis, yang bergerak melalui membrane semipermeable adalah larutan hipotonis ( konsentrasi air tinggi, konsentrasi zat terlarut rendah ) ke hipertonis ( konsentrasi air rendah, konsentrasi zat terlarut tinggi )

 

 

Percobaan 4    : Plasmolisis (Epidermis daun Rhoeo discolor)

Gambar Hasil Pengamatan

KETERANGAN HASIL PENGAMATAN

  1. Pengamatan tentang peristiwa sel rhoeo discolor dengan perbesaran lensa objektif 10x memperlihatkan bahwa setelah di beri 1 tetes  air suling sel Nampak membengkak (besar)
  2. Pengamatan tentang peristiwa sel rhoeo discolor dengan perbesaran lensa objektif 10x memperlihatkan bahwa ketika di beri  1 tetes larutan gula 10 % sel menjadi mengecil (menkerut) dan  nampak bertumpuk.
  3. Pengamatan tentang peristiwa sel rhoeo discolor dengan perbesaran lensa objektif 10x ketika di beri  1 tetes larutan gula 10 % kemudian di biarkan selama 10 menit memperlihatkan bahwa sel rhoeo discolor kembali ke keadaan semula seperti pada saat di teteskan air suling

PEMBAHASAN

 

Percobaan 1

 

Penggunaan kertas indicator lakmus pada percobaan ini adalah untuk menguji sifat asam atau basa gas HCl dan  OH. Ternyata dalam wajtu 9 menit seluruh kertas lakmus merah berjumlah 10 kertas berubah warna menjadi biru, hal tersebut membuktikan bahwa gas yang terdapat di dalam tabung bersifat basa. Namun dalam percobaan ini, selain menggunakan  OH sebagai zat yang bersifat basa, kami juga menggunakan zat HCl yang bersifat asam. Tapi mengapa tidak ada perubahan kertas lakmus biru menjadi merah sebagai tanda bahwa zat HCl bersifat asam?

(Syamsuri, Istamar.2007.Biologi untuk SMA Kelas XI.Jakarta: Erlangga)

Hal tersebut dikarenakan pada percobaan ini, kami meletakkan kertas lakmus di dalam tabung, kemudian dimasukkan zat HCl dan  OH secara bersamaan. Setelah itu tabung ditutup dengan sumbat, sehingga gas HCl dan  OH tidak dapat menguap keluar. Di dalam tabung tersebut kedua zat kimia tersebut bereaksi dan menghasilkan persamaan reaksi :

HCl      +           OH           →        Cl              +          H2O

Pada gas  OH dan HCl juga memiliki massa relative yang berbeda. Yaitu  OH sebasar 35 dan HCl sebesar 39,45. massa relative gas ternyata berpengaruh terhadap kecepatan difusi karena dari massa relative suatu zat dapat menunjukkan molaritas zat tersebut. Molaritas dapat kita cari dengan pembagian antara massa zat yang digunakan dengan massa relative zat tersebut, atau dapat dikatakan bahwa besarnya molaritas berbanding terbalik dengan besar massa relative zat. Apabila massa relative suatu zat lebih besar maka molaritas zat tersebut menjadi lebih kecil dan semakin kecil molaritas mengartikan bahwa zat tersebut memiliki kelarutan yang kecil pula terhadap air, apabila zat tersebut sedikit larut dalam air atau udara menyebabkan semakin sedikit difusi terjadi dan begitu pula sebaliknya. Pada percobaan kali ini, Mr dari HCl lebih besar dibandingkan dengan Mr  OH sehingga molaritas HCl lebih kecil dibandingkan dengan molaritas  OH, oleh sebab itu pada percobaan kali ini gas  OH lebih mendominasi dalam merubah warna lakmus, karena  OH memiliki laju difusi yang lebih besar daripada HCl.

Massa relative (Mr) juga menunjukkan bsarnya ukuran dari zat tersebut, semakin besar Mr maka semakin besar pula ukuran molekul zat tersebut. Besar molekul merupakan salah satu factor yang mempengaruhi laju difusi (lihat pada pembahasan percobaan 2) dimana semakin besar ukuran molekul maka laju difusi semakin lambat, hal ini yang menyebabkan pula  OH lebih mendominasi dalam percobaan tersebut karena  OH mempunyai Mr yang lebih kecil, yang artinya  OH memiliki ukuran molekul lebih kecil dibandingkan HCl sehingga lebih mudah dan cepat untuk berdifusi dengan udara dalam tabung.

 

 

 

 

Percobaan 2

 

Difusi adalah gerakan pasif molekul dalam larutan yang berkonsentrasi tinggi ke yang berkonsentrasi lebih rendah (Rifai, Mien. A. 2002. Kamus Biologi. Jakarta : Balai Pustaka). Molekul memiliki energi kinetik intrinsik yang disebut gerak termal (kalor). Suatu akibat gerak termal ialah difusi, kecenderungan molekul setiap zat untuk menyebar ke seluruh ruangan yang ada (Campbell, et.al : 2002 ( hal 147)). Dalam ketiadaan gaya-gaya lain, suatu substansi akan berdifusi dari tempat yang konsentrasi tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Dengan kata lain, setiap substansi berdifusi menuruni gradient konsentrasinya, difusi merupakan proses spontan karena difusi itu menurunkan energi bebas. Dalam setiap system terdapat suatu kecenderungan untuk meningkatkan entropi, atau ketidakteraturan. Difusi zat terlarut dalam air meningkatkan entropi dengan menghasilkan campuran yang lebih acak daripada ketika terdapat konsentrasi zat terlarut yang terlokalisir (Campbell, et.al : 2002 ( hal 147)). Difusi suatu substansi melintasi membrane biologis disebut transport pasif, karena sel tidak harus mengeluarkan energi untuk membuat difusi terjadi. Difusi zat cair dapat ditunjukkan dengan percobaan 2, dari percobaan tersebut diperoleh bahwa apabila kita meneteskan tinta ke dalam tabung yang berisi air tersebut, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam tabung (konsentrasi rendah) sampai terjadi keseimbangan. Keseimbangan ini disebut dengan keseimbangan dinamik, yaitu molekul pewarna yang melintasi membrane dalam satu arah jumlahnya sebanyak molekul pewarna yang melintasi membrane dalam arah yang berlawanan setiap detik (Campbell, et.al : 2002 ( hal 147)) atau dalam percobaan dapat dikatakan bahwa pergerakan tinta menyebar ke seluruh bagian air sama besarnya dengan pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta. Pada percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan tabung difusi zat cair didapat bahwa tinta-tinta tersebut setelah diteteskan ke dalam tabung yang berisi air langsung menyebar secara perlahan menempuh jarak tertentu dalam selang waktu 4 x 5 menit yang telah dicatat dalah hasil pengamatan, pada awalnya tinta biru menempuh jarak yang lebih panjang setengah sentimeter dibandingkan dengan jarak yang ditempuh oleh tinta merah dalam waktu yang sama, padahal jenis tinta yang digunakan sama otomatis konsentrasi dan besar molekul dapat dibilang sama antara tinta merah dengan tinta biru. Namun mengapa hal ini terjadi ?. itulah gunanya ketelitian dalam percobaan, hal tersebut dapat terjadi karena kesalahan dalam percobaan seperti ketidaksamaan dalam meneteskan jumlah tinta karena ada yang tumpah, walaupun yang tumpah hanya sedikit tapi hal tersebut dapat mempengaruhi laju dari difusi. Hal-hal yang mempengaruhi difusi antara lain :

  1. Suhu, saat duhu makin tinggi maka difusi akan semakin cepat terjadi.
  2. Berat molekul semakin besar maka difusi semakin lambat
  3. Kelarutan dalam medium, semakin besar kelarutan difusi semakin cepat
  4. Beda potensial kimia, makin besar bedanya semakin cepat difusi terjadi.
  5. Perbedaan Konsentrasi, makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin besar proses difusi terjadi.
  6. Jarak tempat berlangsungnya difusi, makin dekat jarak tempat terjadinya difusi, makin cepat proses difusi berlangsung.
  7. Area tempat berlangsungnya difusi, makin luas area difusi makin cepat proses difusi
  8. Struktur tempat berlangsungnya difusi, adanya pori-pori pada membrane maningkatkan proses difusi. Makin banyak jumlah pori makin meningkatkan proses difusi.
  9. Ukuran dan tipe molekul yang berdifusi, molekul yang lebih kecil berdifusi lebih cepat.

(Didik, indradewa, dkk. 2008.   diunduh dari http://faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/pertemuan%201%20(pendahuluan).ppt#282,30,Laju gerakan partikel. Rabu, 22 oktober.8:48)

Pada point ke-3 dikatakan semakin besar kelarutan maka difusi semakin cepat, hal inilah yang menyebabkan mengapa walaupun hanya tumpah sedikit terjadi perbedaan dalam laju difusi. Larutan yang tumpah secara otomatis akan berkurang jumlah volumenya, berkurangnya volume menyebabkan suatu larutan memiliki konsentrasi yang lebih kecil dan konsentrasi mempengaruhi kelarutan dari suatu larutan, semakin besar konsentrasi maka kelarutannya pun semakin besar sehingga dapat lebih larut dalam air atau lebih cepat berdifusi dan begitu pula sebaliknya.

Difusi gas lebih cepat dibandingkan dengan difusi zat cair, hal ini disebabkan berat molekul gas lebih ringan dibandingkan dengan berat molekul zat cair. Gas dikatakan memiliki berat yang lebih ringan karena molekul-molekul gas dapat melayang di udara dan menyatu dengan udara lain di atmosfer sedangkan molekul zat cair tidak dapat melayang atau naik ke atas kecuali telah terjadi penguapan. Oleh karena berat molekul merupakan salah satu factor yang mempengaruhi laju difusi, maka gas yang memiliki berat molekul ringan lebih cepat mengalami difusi dibandingkan dengan zat cair.

Dalam difusi sebenarnya dapat dilalui oleh molekul besar ataupun kecil, ukuran molekul hanya mempengaruhi laju dari difusi tersebut, semakin kecil ukuran molekul (oksigen) maka semakin cepat laju difusi sedangkan semakin besar ukuran molekul (karbondioksida) semakin lambat laju difusi, akan tetapi besarnya molekul yang dapat berdifusi juga punya batasan tertentu.

Ada beberapa syarat suatu partikel atau molekul yang dapat melewati membrane dengan cara difusi :

  1. Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel sederhana
  2. berukuran kecil
  3. Dapat larut dalam air ataupun lemak

(Hian. 2009. diunduh dari http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/proses-difusi.html. Rabu, 22 oktober. 20:50)

Macam-macam membrane permeabilitas :

  1. Impermeable (tidak permeable), dimana air maupun zat terlarut didalamnya tidak dapat melaluinya.
  2. Permeable, yaitu membrane yang dapat dilalui oleh air maupun zat tertentu yang terlarut didalamnya.
  3. Semi permeable, yaitu membrane yang hanya dapat dilalui oleh air tetapi tidak dapat dilalui oleh zat terlarut, misalnya membaran sitoplasma.

 

 

 

 

Percobaan 3

Pada papaya yang direndam dengan air ledeng , ukurannya akan menjadi lebih besar dari ukurannya yang semula. Hal ini dikarenakan air akan berosmosis kedalam vakuola melalui sitoplasma yang bersifat semipermeable. Karena adanya air yang masuk ke dalam vakuola ( yang berisi cairan zat-zat terlarut ), vakuola akan menekan membrane plasma dan dinding sel. Peristiwa ini disebut dengan turgor.

Sedangkan pada papaya yang direndam dengan larutan garam 20%, ukurannya akan menjadi lebih kecil dari ukurannya yang semula. Hal ini dikarenakan air yang ada di dalan vakuola akan keluar sehingga membrane sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari dinding sel.

Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan konsentrasi larutan di sekeliling sel atau di lingkungan sekitar sel. Jika sel tumbuhan yang pada percobaan kali ini diwakili oleh buah papaya diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan tersebut akan kehilangan air karena pada kondisi ini sel tumbuhan bersifat hipotonik terhadap larutan yang menyebabkan air dalam sel tumbuhan tertarik ke lingkungan sekitar yang konsentrasinya lebih tinggi dengan adanya hal ini menyebabkan sel tersebut kehilangan tekanan turgor, yaitu tekanan dari vakuola yang menekan membrane sel, dengan kehilangan tekanan turgor tersebut menyebabkan sel menjadi lemah atau lembek, dalam percobaan ditandai dengan berkurangnya ukuran dari buah papaya tersebut.

Sedangkan pada saat sel tumbuhan yang diwakili oleh buah papaya diletakkan di air ledeng yang sifatnya lebih hipotonik terhadap cairan dalam sel dan cairan dalam sel bersifat lebih hipertonik dibandingkan dengan air ledeng yang berada di sekitar sel tersebut, menyebabkan cairan sel menarik air ledeng yang lebih hipotonis. Hal ini membuat sel tumbuhan tersebut menjadi lebih besar keadaannya, pada saat yang bersamaan pula vakuola melakukan tekanan terhadap membrane sel untuk menjaga kondisi dari sel tersebut agar tetap menjadi kaku dan tidak lisis, peristiwa ini yang disebut dengan turgor yang memiliki besar tekanan yang disebut dengan tekanan turgor.

Jadi, pada percobaan kali ini, terjadi dua peristiwa yaitu osmosis, difusi pelarut dari konsentrasi tinggi ke rendah, ditandai dengan terjadinya perubahan kondisi dari buah papaya menjadi lebih besar dan kecil. Kemudian peristiwa turgor yang merupakan dampak dari peristiwa osmosis, karena dengan adanya perpindahan pelarut ke dalam sel tersebut yang menyebabkan vakuola melakukan tekanan turgor terhadap membrane sel untuk mempertahankan kondisi sel agar tidak terjadi lisis (pecah)

Percobaan 4

Pergerakkan molekul air melalui membran semi permeable selalu dari larutan hipotonis menuju larutan hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua zat seimbang (isotonic). Pada saat sel diletakkan dalam air suling , konsentrasi zat terlarut dalam sel hipertonik karena adanya garam mineral, asam organic dan berbagai zat lain yang di kandung sel. Dengan demikian air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi larutan di dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membrane sel mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah. Pada sel tumbuhan hal ini dapat teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menahan sel mengembang lebih lanjut. (Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo.2007.Praktis Belajar Biologi.Jakarta:Visindo Media Persada)

Pada saat air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan mineral garam dan zat-zat yang terdapat dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi dalam zat terlarut diluar sel sama besar dibandingkan konsentrasi air di dalam sel. Pada sel rhoeo discolor yang di tetesi air suling sel menjadi membengkak karena air masuk melalui osmosis. Akan tetapi, dindingnya yang lentur akan mengembang hanya sampai pada ukuran tertentu sebelum dinding ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan penyerapan air lebih lanjut. hal ini di sebabkan sel berada pada kondisi paling sehat dalam lingkungan hipotonik dimana kecenderungan untuk menyerap air secara terus-menerus akan diimbangi oleh dinding lentur yang mendorong sel. (Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga)

Jika sel dimasukkan ke dalam larutan hipertonik, air akan terus-menerus keluar dari sel . sel akan mengerut mengalami dehidrasi dan bahkan dapat mati. Pada sel tumbuhan hal ini menyebabkan sitoplasma mengerut  dan terlepas dari dinding sel. Peristiwa ini di sebut plasmolisis. (Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga. )Pada sel rhoeo discolor yang di beri larutan gula 10% peristiwa ini Nampak jelas terlihat. Sel- sel pada rhoeo discolor menjadi menkerut dan terlihat bertumpuk. Hal ini di sebabkan potensial air di luar sel  rhoeo discolor  lebih rendah daripada potensial air di dalam sel. Jika sel kehilangan air cukup besar, maka ada kemungkinan volume isi sel akan menurun besar sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel.  Sel yang sudah terplasmolisis dapat disehatkan kembali dengan memasukkannya ke dalam air murni (Tjotrosomo, 1983: 11). Setelah 10 menit sel yang ditambahkan  larutan gula 10 % kembali kekeadaan semula hal ini  Dengan demikian pada saat tertentu sel perlu meningkatkan kembali kandungan zat-zat dalam sitoplasma untuk menaikkan tekanan osmotic dalam sel. Cara sel mempertahankan tekanan osmotiknya di sebut osmoregulasi.

Demikian seterusnya sel selalu aktif dan hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan kondisi seimbang antara sel dan lingkungannya.

Sel yang telah mengalami plasmolisis dapat kembali ke keadaan semula. Proses pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis (Elsa, 2009). Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hamper sama dengan plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indicator dari ada atau tidaknya osmosis yang terjadi

KESIMPULAN

  1. Difusi adalah gerakan pasif molekul dalam larutan yang berkonsentrasi tinggi ke yang berkonsentrasi lebih rendah
  2. Difusi tidak memerlukan energi dalam melakukan kerjanya, sehingga termasuk transpor pasif.
  3. hal-hal yang mempengaruhi difusi antara lain :

a)                  Suhu,

b)                  Berat molekul

c)                  Kelarutan dalam medium

d)                  Beda potensial kimia

e)                  Perbedaan Konsentrasi

f)                    Jarak tempat berlangsungnya difusi

g)                  Area tempat berlangsungnya difusi

h)                  Struktur tempat berlangsungnya difusi

i)                    Ukuran dan tipe molekul yang berdifusi

  1. Difusi gas lebih cepat dibandingkan dengan difusi zat cair
  2. Ada beberapa syarat molekul yang dapat melewati membrane dengan cara difusi :

a)                  Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel sederhana

b)                  berukuran kecil

c)                  Dapat larut dalam air ataupun lemak

  1. Difusi akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan, dimana laju pergerakan molekul antar substrat dalam arah yang berlawanan adalah sama.
  2. Dalam difusi gas dapat memungkinkan kedua zat yang ditaruh di ruang tertutup  bereaksi satu sama lain dan menghasilkan zat baru sesuai dengan persamaan reaksi yang telah didapat.
  3. Perubahan kertas lakmus merah menjadi biru membuktikan zat tersebut bersifat basa.
  4. Perubahan kertas lakmus biru menjadi merah membuktikan zat tersebut bersifat asam
  5. Besar Mr mempengaruhi besar molaritas suatu zat yang pada akhirnya mempengaruhi laju difusi suatu zat.
  6. Ukuran molekul dapat dilihat dari besarnya Mr yang merupakan factor yang mempengaruhi laju difusi suatu zat.
  7. Pada percobaan 3 bahan yang digunakan adalah buah papaya. Karena buah papaya memiliki vakuola yang besar. Sehingga memudahkan kita dalam mengamati perubahan kondisi fari sample tersebut.
  8. Osmosis adalah peristiwa berpindahnya zat pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah.
  9. Turgor merupakan salah satu peristiwa yang muncul dengan adanya peristiwa osmosis, turgor adalah keadaan dimana sel melakukan tekanan keluar yang dilakukan oleh vakuola untuk mempertahankan kondisinya agar tidak pecah (lisis) yang terjadi setelah osmosis mencapai titik kesetimbangan.

15.  Plasmolisis terjadi karena sel dimasukkan ke dalam larutan hipertonik sehingga air akan terus-menerus keluar dari sel dan menyebabkan  sel  mengerut, begitu sel ini mengerut membrane plasmanya tertarik menjauhi dindingnya.

16.

Sel + air suling Sel +larutan gula 10%Sebelum 10 menit Sel +larutan gula 10%Sesudah  10 menit
Sel rhoeo discolor menjadi bengkak(keadaan normal) dan kaku Sel rhoeo discolor menjadi mengerut, sel-nya mengalami penumpukan, dan ukuran sel menjadi lebih kecil Sel rhoeo discolor menjadi bengkak kembali, sel tidak mengalami penumpukan dan tidak mengerut ( kembali kekeadaan semula sepertu pada saat sel di tambahkan air suling)

17.  Semakin tinggi konsentrasi perendam semakin banyak sel yang terplasmolisis karena

18.  Sel yang telah mengalami plasmolisis akan dapat kembali kekeadaan semula. Proses pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis. Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indicator dari ada atau tidaknya osmosis yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang.2006.Biologi.Jakarta:Erlangga

Campbell, Neil A, Reece, Jane B, G. Mitchell, Lawrence, Alih bahasa, Rahayu Lestari…[et al.].1999. BIOLOGI. Jilid 3. Jakarta: Erlangga

Chang, Raymond.2005.Kimia Dasar “Konsep-Konsep Inti”.Edisi kelima. Jilid 1.Jakarta : Erlangga

Didik, indradewa, dkk. 2008.   diunduh dari http://faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/pertemuan%201%20(pendahuluan).ppt#282,30,Laju gerakan partikel. Rabu, 22 oktober.8:48)

Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo.2007.Praktis Belajar Biologi.Jakarta:Visindo Media Persada

Hian. 2009. diunduh dari http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/proses-difusi.html. Rabu, 22 oktober. 20:50

Jane B. Reech.2003.Campblle edisi kelima.Jakarta:Erlangga

Kaseng, Ernawati dkk. 2006.BIOLOGI. Jakarta :Widya Utama

Rifai, Mien. A. 2002. Kamus Biologi. Jakarta : Balai Pustaka

Sihombing, Betsy.et. al.,2000.Panduan Praktikum Biologi Umum. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Jakarta

Syamsuri, Istamar.2007.Biologi untuk SMA Kelas XI.Jakarta: Erlangga

 

About these ads

9 thoughts on “Difusi, Osmosis, Plasmolisis

    • maaf ya, waktu memuat ini di blog, saya buru2. dapus banyak sekali. sampai 2 lembar bisa… jadi mungkin gak ke copas. boleh aja si, tapi baiknya cari di buku2 buat tambah ilmu.oke

  1. Ping-balik: Plasmolisis « Vhiolette's Blog

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s