Agama Islam dan Pemeluknya

 

Agama Islam menjadikan pemeluknya umat yang unik, umat yang sangat berbeda dengan umat manusia lainnya.  Umat muslim memiliki syakhsyiyah –kepribadian- yang sangat berbeda dengan perilaku umat lain yang pernah ada sebelumnya, karena umat sebelumnya lebih cenderung memiliki penafsiran yang keliru terhadap kehidupan ini karena dipengaruhi oleh adanya unsur etnis, perkelompokan dan jauh dari wahyu Tuhan.
Umat muslim berbeda, karena ajaran agamanya memiliki cara pandang yang sempurna; cara pandang terhadap alam, cara pandang terhadap kehidupan (dunia) dan cara pandang terhadap masyarakat. Cara Pandang yang sempurna ini memberi dampak yang sangat signifikan terhadap hadharah –peradaban-, sistem dan tata kehidupan umat muslim. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” Al-Anbiya’:92
Allah swt. sendiri yang mensifati umat muslim sebagai khairu ummah; sebaik-baik umat. Allah swt. berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Ali Imran:110
Allah swt. juga yang menjelaskan muwashafat umat ini sebagaimana ayat di atas; yaitu mereka yang menegakkan amar makruf, menjalankan nahi munkar yang keduanya sebagai bagian yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya karena itu merupakan misi perjuangan. Dan perjuangan itu dilandasi dengan sikap percaya dan yakin kepada Allah swt.; yakin terhadap  kebenaran risalah-Nya, yakin akan pertolongan-Nya dan yakin akan eksisnya agama-Nya di muka bumi ini. Jadi muwashafat khairu ummah adalah; amar makruf, nahi munkar dan dilandasi dengan iman kepada Allah swt.
Cara pandang atau pemikiran Islam yang berlandasan tauhid murni ini menjadi munthalaq –pijakan- dalam menghadapi berbagai teori dan mensikapi beragam isme dengan objektif. Tidak semua hal yang baru diterima mentah-mentah. Pemikiran Islam terbuka, mampu menyikapi berbagai pemikiran yang berkembang demikian pesat di dunia modern sekarang ini. Pemikiran Islam mampu mengantarkan umat muslim dalam posisi yang memilki prinsip take and give. Karena ajaran Islam tidak akan pernah ada penyimpangan dan kontradiksi. Itu disebabkan oleh karena adanya Al-Qur’an. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Al-Hijr:9
Selain Al-Qur’an sebagai sumber kemurnian Islam, juga ada Sunnah Nabi Muhammad saw. menjadi petunjuk bagi umat muslim. Berkat kegigihan para salafush sholih –generasi pertama Islam- Sunnah Nabi tetap terjaga dengan lengkap.
Ikatan Umat Islam
Agama Islam menyatukan umatnya yang memiliki latar belakang berbeda; berbeda jenis kelamin, berbeda etnis, lingkungan, bahasa, warna kulit dan tanah air menjadi umat yang satu. Pondasi persatuan itu sangat kokoh, karena berdiri tegak di atas pondasi aqidah Islam, pondasi yang sejalan dengan fitrah manusia. Ikatan persatuan umat Islam itu atas dasar:

  1. Tauhid. Menyembah Tuhan yang Esa, Allah swt. tempat bergantung segala sesuatu. Dzat yang tidak berputra dan diputrakan. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Setiap muslim yang mengikrarkan Tuhan yang Esa, berarti mereka telah meng-Esakan Allah dalam peribadatan. Tauhid berarti juga membebaskan setiap hamba dari penyembahan terhadap sesama hamba, hanya menyembah Allah swt.,  sekaligus mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan menuju keadilan langit.
  2. Menghadap Ka’bah Saat Shalat. Di manapun setiap muslim berada, ia menghadap ke arah Kiblat, Baitullah Al-Haram ketika shalat. Kesamaan ini menjadi bukti kesatuan tujuan. Mengembalikan umat muslim ke arah tujuan yang murni yang tidak dicederai oleh tujuan-tujuan sampingan, juga tidak terkoyak oleh target-target duniawi yang pasti akan berganti, sekaligus sebagai upaya untuk mengkikis habis perselisihan dan kelas sosial.
  3. Kesamaan Kitab Suci, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai sandaran undang-undang, sebagai sumber pengambilan hukum, dalam berbagai lini kehidupan; baik aspek peribadatan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, juga militer. Sumber ini membuktikan kesatuan pemikiran, kesatuan tsaqafah dan kesatuan arah perjuangan. Adalah merupakan pondasi yang sangat penting, di mana umat Islam berdiri tegak di atasnya.
  4. Kesatuan Haji ke Baitullah Al-Haram. Ibadah haji merupakan muktamar Islam tahunan yang menyatukan umat muslim di seluruh penjuru dunia. Inilah yang sebenarnya ditakuti oleh para orientaslis dan musuh-musuh Islam, di mana mereka melihat ada dua faktor yang menghimpun umat muslim di manapun meraka berada, pertama haji ke Baitullah Al-Haram dan Khilafah Islamiyah. Ibadah haji menghidupkan ruh persatuan Islam secara total. Ibadah haji mampu merontokkan fanatisme dan perkelompokan. Siapa saja yang melaksanakan haji ia pasti merasakan adanya hamasah diniyah –semangat keber-agamaan- yang kuat untuk menerapkan Islam yang mulia ini. Sebagaimana ibadah haji sebagai sarana transfer ilmu, pertukaran informasi, dan pemikiran di antara umat Islam, juga sebagai sarana untuk membuka cakrawala berfikir umat Islam terhadap konspirasi dan sarana-sarana yang digunakan musuh-musuh Islam.
  5. Kesatuan Bahasa.  Yaitu Bahasa Arab yang Allah swt. pilih sebagai bahasa Al-Qur’an. Nabi sangat menganjurkan umatnya agar mempelajari dan berbicara dengannya, juga untuk menggali hukum-hukum Islam dan syariatnya. Bahasa Arab bukan untuk orang Arab, tapi Bahasa Arab milik umat muslim semuanya. Bahasa Arab sebagai sarana untuk membuka komunikasi, saling memahami di antara umat muslim, sarana untuk bekerja sama, sebagai sarana untuk menjaga Islam dan mentransfer kekayaan ilmiyahnya.

Rasulullah saw. bersabda: “Bahasa Arab bukan milik salah satu di antara kalian, karena adanya faktor (keturunan) dari ayah atau ibu, akan tetapi Bahasa Arab adalah lisan, barangsiapa yang berbicara dengan menggunakan Bahsa Arab berarti ia ‘Araby -orang Arab-.” (I’tidhaush Shirat, karya Ibnu Taimiyah hal 169, hadits ini dhaif tapi maknanya shahih). Al-Qur’an telah menjaga bahasa ini. Islam telah melestarikannya. Dakwah tauhid juga telah menyebarluaskannya di seluruh pelosok dunia Islam. Kalau bukan karena serbuan dari para penjajah yang menguasai banyak negara-negara muslim, maka bahasa Arab menjadi bahasa ibu bagi mereka.

  1. Kesamaan Sejarah Umat Islam. Sejarah yang mengkondisikan umat ini memiliki kesamaan cita-cita. Sejarah yang menjadikan umat muslim ini umat yang satu, di mana seseorang merasakan apa yang dirasakan saudaranya, baik ketika senang atau ketika susah. Setiap muslim memiliki kesamaan dalam mensikapi kejadian perang Badar, Fathu Makkah, perang Tabuk, Yarmuk, Qadisiyah, Hiththin, Ain Jalut, Bilathusy Syuhada’, pembantaian umat Islam di Andalusia, di Palestina, umat muslim di Rusia, di Filipina, di Patani, di Afghanistan, India, Kasymir, dst.
  2. Kesatuan Kenabian dan Kerasulan. Allah swt. berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Al-Baqarah:285.

Kesatuan kenabian ini mengantarkan pada kesatuan nilai, tradisi, adat, di antara putra-putra Islam di manapun mereka berada. Di dunia Islam manapun anda berada anda akan mendapatkan di antara umat muslim memiliki nilai silaturrahim, melaksanakan hak tetangga, saling menghormati, tidak menyukai kemungkaran, konsumsi makanan halal dan thayyib, menghormati keluarga, adat muamalat, hingga jika anda berada dalam komunitas umat muslim yang bukan dari wilayah anda, anda akan mendapatkan perlakuan yang sama, seakan-akan anda bagian dari anggota keluarga mereka. Karena Islam telah menyatukan nilai dan tradisi mereka sesuai hukum-hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.. Allah swt. berfirman: “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” Al-Anfal:63. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beirman dalam cinta, kasih-sayang dan persaudaraan di antara mereka, laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh lainya tidak bisa tidur dan terasa panas.” Muttafaqun alaih. Allahu a’lam (Hadhirul ‘Alam Islami, Dr. Al-Mishri)

http://gus-ulis.blogspot.com/2011/02/umat-islam-dan-dunia-islam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s