Permintaan Kakak

Kamis itu panas begitu terik, namun tidak seperti di dalam ruangan 3.9. Tempat sekarang aku mendengarkan materi dari dosen Perkembangan Hewan. Aku kedinginan di dalam sini. Sambil terus berusaha menangkap penjelasan dosen. Ia terus menyajikan materi dengan menggebu-gebu, seperti biasa yang ia lakukan. Tapi tak lama lagi jam mata kuliah ini habis, aku bebas pergi ke luar ruangan dengan buku yang harus kubaca lagi di rumah.

Banyak orang di depan ruang kuliah yang baru saja kutinggalkan. Sepertinya mereka sudah lama menunggu kelasku keluar. SPS (Seminar Pra Skripsi)

Di sudut keramaian itu aku menemukan wajah yang sudah tak asing bagiku, menyegarkan pikiran dan melunturkan stress meski sudah jarang kutemui. Kak Jay. Begitulah orang memanggilnya. Aku langsung menyapanya, tak lupa salim seperti biasa.

”Bagaimana kabar, Mbak?” Aku berusaha tersenyum menjauhkan ekspresi datar yang kupunya untuk beberapa saat.

”Baik..” diselingi senyum yang membuat penatku hilang.

”Mbak kapan SHP? SMS adik ya kalau mau maju SHP” Senyumku makin bisa mengembang dengan mata yang menyipit.

”Gak ah” Jawabnya menang dengan tanpa dosa.

”Yah, mbak gitu”…

Percakapan itu tak lama selesai karena aku masih ada kuliah jam 1 nanti. Aku harus makan siang dulu…Mag ku sudah tak bisa diajak kompromi.

Sudah beberapa menit aku dan teman sekelas menunggu dosen Profesi kependidikan yang telaten itu. Salah satu temanku yang menjemputnya di kampus UNJ yang lain belum juga datang. Setelah datang…..

”Temen-temen, ibunya ada workshop dan gak bisa sms…Hmmm” Dia diam tak melanjutkan kata-katanya..tak lama ia sudah disambut dengan teriakan seperti ini,”Yeeeeeesssss!!!!”

Dasar bocah!

Aku pun turun dari ruang kelas yang terletak di lantai 2 kampus B UNJ. Urung untuk pulang, ada tes penempatan tahsin, aku dan beberapa teman beranjak ke MUA (masih ingat kan..ini singkatan nama masjid kampus B UNJ, Masjid Ulul Albaab)..

Kami lumayan kompak kalau urusan semacam ini.

Di jalan menuju MUA, aku melihat satu wajah lagi yang membuatku membanjirinya dengan puisiku. Sedang berbincang dengan kawanannya. Senny Ikhsani. Pertemuan meminta software spss darinya kutunda besok karena laptopnya dilantai 3 dan aku akan ada kuliah di gedung sebelah. Tapi batal. Kebetulan, minta sekarang saja.

Kali ini… Bolehlah jadi bocah. Hehe.

Teman-temanku pergi lebih dulu ke MUA meninggalkanku. Dan aku mulai menghampiri kakakku itu.

”Odooong” Sopan sekali aku menyapa akhwat yang 3 tahun lebih tua dariku. Panggilan dariku hanya untuknya.

Sekarang saja boleh ya, spssnya”

Tak lama ia sudah keluarkan laptopnya.Lhooo, kok baru.

”Punya adekku” katanya..

Lama sekali transfer datanya….

”Kok lama ya dek, ada gangguan apa ni?” Pertanyaannya jelas tak bisa kujawab. Hehe.

“Bagaimana kuliah adek?”

“Hmmm,lancar-lancar aja, tapi untuk materi keguruan aku agak bingung seperti biasanya.”

“Kenapa?”

Memburu jawaban

“Hmmm, gak ngerti .Aku paham materinya. Tapi menjawab dan merangkai kata untuk pertanyaannya, adk gak ngerti. Aneh”

”Hmm, iya benar”

Memang mudah dimengerti, tapi jika sudah dihadapi dengan soalnya yang agak berbeda dengan kuliah-kuliah objek ilmu yang digeluti….agak beda.

Seperti, metode pembelajaran apa yang cocok diterapkan jika situasinya begini,alasannya?

Tuh kan, butuh analisis guru sejati… Kalau nulis puisi aja untuk jawabnya kan gak boleh. Hehe.

”Aduuh, kok lama ya dk”

Lagi-lagi tak bisa kujawab.

”Hmm. Mau ke kampus A, aduuh. Gak ada yang mau ke sana ya?”

”Aku males dk, harus ke sana. Terus nati aku harus ngajar di daerah ini lagi”

Kebiasaan bermonolog sendiri.

”Kamu mau ke mana abis ini?”

”Mau ada tes tahsin kak. Terus ada syuro keputrian”

Ia mencerna sepersekian detik kata-kataku.

”Kakak lanjut ke LDK?” Kali ini aku yang bertanya. Maklum, lagi ngetren pergantian pengurus seantero UNJ bulan-bulan ini.

”Bukan lanjut dk, tapi dipaksa masuk. Aku ditolak dikeputrian. Wajahku kurang putri kali”

???Bercanda, gak lihat hidung mancung  gitu, mata teduh kulit putih bersih. Jilbab rapih…

Aku diam, tidak menyuarakan kata-kata itu. Hihiii, takut Kalau Odong ngamuk.

”Dek, tetep jadi adikku ya meski aku udah lulus nanti”

Deg.

Aku terdiam sejenak mendengar kalimatnya… Permintaan.

”Aku mau lulus tahun ini” Sambil menggelengkan kepala dan menghentakkan tanganya.

Aku masih diam.

Menimbulkan banyak pertanyaan di benakku.

Sudah berapa lama ya aku kenal Kak Senny?

Aku sudah memberi perhatian sejauh mana untuknya?

Sebandingkah dengan perhatian darinya?

Sedalam apa do’a  yang pernah  kulantunkan untuknya tanpa sepengetahuannya?

Kok bisa ya dia ngomong gitu, seberapa penting aku untuknya?

Aku memandangi gadis yang berkutat mengecek data spss. Sudah selesai atau belum.

”Nih dk, udah selesai” Membuyarkan lamunan seraya mengembalikan flash diskku.

Dia mengotak atik laptopnya lagi. Mengaktifkan mode kamera. Dengan cepat ia menarik wajahku

”Ayo dk, kitakan belum pernah foto berdua”

”Liat ke sini ya” Sambil menunjuk micro kamera di laptopnya.

Aku pasang wajah datar seperti biasa… Lagi-lagi aku berusaha mengubur ekspresi datarku ini.

”Ih, adik…mana senyumnya?”

Penodong.

Aku berusaha menarik otot di tepi bibirku. Sekali-kali membuat orang lain senang.

Ckrek (Gak gitu juga sih bunyinya)

”Ayo dk, lagi”

Fanatik.

”Ih, mukanya kak Jay banget”katanya sambil memperhatikan foto itu.

”Iya, waktu itu juga ada yang bilang adik seperti adik kandungnya”

”Aku juga, Dk”

Ada 3 foto yang sudah ada di layar laptopnya. Hanya satu dari senyumku yang terlihat ikhlas.

Aneh. Meski sebenanya terlihat tidak ikhlas juga….

Kawan, aku bukan tidak ikhlas memberi senyuman secara natural untuknya. Tapi memang dasarnya Qorin, susah untuk senyum, masih taraf latihan. Hihi

”Aduuh, siapa yang mau ke kampus A?” Ia masih saja mencari-cari orang disekeliling yang ia kenal.

“Sepertinya benar-benar tidak ada.” Jawabku. Bukan datar, kali ini memberikan perhatian.

Aku ingin segera menyusul yang lain di MUA. Kak Senny pun beranjak ke kampus A.

”Ya udah ya, semangat.”

Jabat tangan kayak salam pramuka ala akhwat. Lanjut cipika cipiki. Aku mengecup jilbabnya. Aku tak pernah melakukannya sebelumnya. Tidak mudah mengakui rasa ukhuwah ini untuk seseorang. Tapi harus belajar agar tidak dibilang autis sedunia. Apalagi tujuannya mencari keridhaan Allah. Ya Allah, kekalkan ukhuwah ini meski kak senny sudah tidak di kampus bersamaku lagi, kalau keduanya sudah tidak dikampus lagi, hhhffh..sampai pertemuan kami di surga nanti. aMiin

”Aduh,dk. Bau asem jilbabnya”

Tidak kujawab apa-apa, aku bukan orang yang pandai memperlihatkan rasa perhatian pada orang lain. Yang terasa bahwa aku orang yang dingin.

Maaf kakak, aku ingin kau tahu, aku menyayangimu karena Allah dengan cara yang diridhai Allah dan untuk mendapat Ridha Allah.

”Dk, Ayo tos!!!”

Bocah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s