Keteduhan Mata Syifa

Cerpen hasil Latihan…..gak terlalu bagus, tapi masuk mading UKM (Unit Kesenian Mahasiswa UNJ) saking ga ada yang ngisi😦

;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Jika kau tidak juga menikah, jangan menjadi anak ibu!

Aku tersentak mendengar perkataan ibu.Tatatpanku nanar. Aku tak tau bagaimana menjawab pertanyaan ibu. Setelah membentakku ibu masuk ke dalam ruang tengah. Raut wajahnya memancarkan kelelahan dalam menunggu. Kerinduannya akan hadirnya seorang menantu sudah tidak bisa ia bendung lagi. Aku hanya bergeming di sofa tua berwarna merah gelap di ruang tamu.Di rumah peninggalan ayah daerah rangkas. Pikiran ini melayang pada beberapa menit yang lalu ketika aku baru saja datang dari kota Jakarta. Pulang dari mes RSCM. Aku tiba di depan rumah tua bercat hijau tua, mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu dengan menjawab salama dan disambung dengan senyuman hangat. Ibu.  Aku mengecup punggung tangannya. Dengan langkah lelah aku masuk ke dalam rumah.Mengistirahatkan tubuhku pada sofa tua ini. Seketika itu pembicaraan ini bermula. Beliau bertanya kapan aku akan menikah. Tidak ada jawaban dariku. Aku termangu di tempat lalu ibu sudah menyodorkan pertanyaan  lain, “Atau kau sudah memiliki calon tetapi belum mau mengatakannya pada ibu?” Jawaban ‘iya’ yang sangat ingin didengarnya tak keluar dari mulut anak semata wayangnya ini. Tatapanku kosong ke langit-langit rumah. Aku sangat lelah. Aku sangat mencintai ibu, aku menghormatinya dengan pengabdian kepadanya. Lalu pernyataan yang sontak membuat hatiku beku itu keluar dari mulut ibu, seolah peluru yang memburu bertubi-tubi sekali keluar dari senapan. Hatiku meradang namun tetap tak mengeluarkan kata sedikitpun. Aku melangkah ke kamar., ingin kuluapkan semua..Agar bisa melahirkan titik kesabaran.

Kamar ini masih memberikan keharuman dua tahun yang lalu. Saat aku menyiapkan semua kebutuhan pernikahan dengan Syifa, Gadis bersahaja dengan tatapan sedih dari raut wajahnya. Tatapan mataku kosong dan sayu. Penat selama dua bulan di rumah sakit yang masih kurasakan. Tidak ada kesejukan yang kuhirup. Aku pulang untuk menjenguk ibu, tapi ibu masih sama, tidak sabar akan pernikahan anaknya.

Aku ingin merasakan udara kamar ini. Kuletakkan tas kerja di pojok lemari cokelat berukiran khas Jepara dan mengisitirahatkan tubuh di tempat tidur kapuk. Serbuan masa itu mengepung namun kali ini aku tersenyum perlahan.

Awal di mana pertemuanku dengan Syifa Az-zahra di depan apotik RSCM. Tempat biasa aku meracik obat sebagai apoteker.

“Pesan dari dokter Yuda, saya harus memberikan ini pada anda”

Seraya menyodorkan kertas kumpulan data obat yang stoknya akan habis di apotik RSCM.

“Pegawai baru?” tanyaku singkat dan bukannya menjawab ia malah mengucapkan salam dan segera berlalu dari pandanganku. Tak terlalu berkesan. Namun kuakui, aku baru kali ini menemui tatapan yang aneh seperti itu. Tak pernah kulihat seseorang dengan wajah yang sangat sedih seperti itu. Kulit wajahnya pucat dan semakin terlihat jelas karena ia memakai kerudung bewarna hitam.

Kami tak banyak bertemu setelah itu. Aku sibuk dengan pekerjaanku, menimbang zat di ruang pucat bernama laboraturium. Mencampurkannya dan meraciknya sebagai obat. Harus sangat teliti karena aku tak boleh salah meski hanya sekian mol saja. Karena dapat membahayakan nyawa seorang yang meminumnya.

Belakangan aku mengetahui bahwa Syifa adalah pasien yang rajin cek up di RSCM. Aku bertemu dengannya yang baru saja keluar dari ruangan dokter Yuda, seorang dokter umum. Aku ingin bertanya pada dokter Yuda tentang nama obat yang kurang jelas dalam daftar di lab. Seperti biasa, sepersekian detik ia memandangku dengan tatapan sedihnya. Menunduk dan akhirnya segera pergi.

Aku memasuki ruangan dokter Yuda, berusaha mencari tahu siapa gadis itu. Ia menjelaskan padaku bahwa aku tak berhak mencaritahu data mengenai pasiennya tadi. Aku hanya diberi tahu nama gadis itu, Syifa Az-Zahra dan sering dipanggil Syifa.

Aku terbangun dari pembaringanku,mencermati isi kamar dengan merasakan keharumannya. Kamar lembab dengan sedikit peralatan kerja yang cukup usang. Ku cermati semua, dan pandanganku tertuju pada tumpukan undangan berwarna merah marun di sisi lemari. Tepat bersebelahan dengan tas kerjaku. Masih tertata rapi, bertuliskan nama-nama kerabat, teman dan semua anak asuh Syifa.

Sebulan setelah itu aku memberanikan diri menyapanya ketika berpapasan di lobi RSCM.

“Assalamu’alaikum” Aku berusaha sesopan mungkin padanya.

“Wa’alaikumsalam” Jawabnya lembut dengan menundukkan pandangan, Lalu ia berlalu dengan tas kecil dipunggungnya.

“Sebentar Syifa, maaf. Bolehkah saya berbincang denganmu” Aku berusaha tidak mengganggunya.

Tatapannya melembut dan hanya tersenyum kemudian berlalu masuk ke ruangan dokter Yuda.

Rabb, aku hanya berdo’a yang terbaik untuk gadis itu, penyakit macam apa yang diidapnya hingga ia seperti ini pada orang lain?

Syifa sudah selesai dari Cek up. Hari itu Kamis cerah pada bulan Mei. Untuk sekian kalinya Syifa cek up dan sendirian, tak pernah kulihat siapapun bersamanya.

“Maafkan saya karena tidak menjawab pertanyaan anda waktu itu”

Ia membawa bungkus obat yang cepat-cepat ia masukkan dalam plastik, ia tahu aku seorang apoteker dan aku akan dengan cepat mengetahui apa penyakit yang sebenarnya ia derita.

Aku dan dia duduk di kursi yang merapat dengan tembok di salah satu lorong rumah sakit.

“Anda tahu tentang Liver?”

Aku terdiam. Ya. Aku tahu, namun aku tahu Syifa tak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya tadi.

“Dokter Yuda sangat baik,,yah..saya pikir nasehatnya benar. Saya harus berani berbicara pada orang lain. Mungkin itu akan mempercepat proses penyembuhan saya” Begitu katanya.

Aku mendengarkan satu demi satu kata-kata dari seorang gadis yang sangat minim untuk berbicara.”Yah,saya tak mau rawat inap. Maka dari itu saya rawat jalan. Saya harus mengurus anak-anak saya”

Deg

“Kau sudah menikah?”

Ah, lancang sekali mulutku.

Ia tersenyum gamang tanpa melihat ke arahku.

Sebuah rumah mungil dengan dinding bercat hijau muda. Terdapat ukiran khas Jepara di daun-daun jendela dan pintunya. Di depan rumah terdapat taman yang luas. Disekeliling terdapat pohon-pohon cemara dan berbagai bunga . Udara segar dan damai. Di setiap bagian-bagian rumah terdapat papan bertuliskan nama-nama kota di Jazirah arab. Di ruang makan terdapat papan bertuliskan Jeddah

Di ruang tempat tidur terdapat papan bertuliskan Dhahran

Ruang tamu disulap menjadi aula kecil tempat berdiskusi.

Aku sedang berada di rumah asuh As-Syifa. Sesungguhnya aku baru melihat yang seperti ini. Ternyata Syifa merintis sedikit demi sedikit rumah bagi anak-anak jalan yang tak mengenal keluarganya. Ia bahkan mengangkat mereka menjadi anak-anaknya. Dibantu teman dekatnya Asykira, mereka berjuang memotivasi anak-anak jalan.

Pandangan Syifa teduh, pelan ia berkata,

“Aku tak tahu sampai kapan aku hidup, tapi aku ingin melihat mereka tersenyum”

“Syifa, maukah kau bertaaruf denganku?”

Aku yakin dengan hal ini. Sudah kupikir masak-masak. Syifa hanya memperlihatkan tatapan sedihnya.

“Maafkan saya” Ia menjauh.

Syifa tetap mengizinkan aku berbincang dengannya dalam berbagai kesempatan. Saat dikerumunan pembesuk orang sakit, saat di lobi atau tak sengaja bertemu di kantin RSCM. Jarang sekali. Karena ia cek up dua minggu sekali.

Wajahnya kini tak sekuning saat pertama kali bertemu denganku dulu.

Ia dengan senyum sumringahnya menjelaskan, “Kata dokter, kesehatanku menujukkan kemajuan yang pesat”

Tak terasa aku sudah bertaaruf dengan Syifa selama dua bulan. Dan kini aku sudah berada di percetakan. Memesan undangan.

“Begini…Yang ini di bingkai keemasan, yang ini…” aku antusias menjelaskan bagaimana design yang telah kubuat. Saat aktif di kampus aku lumayan aktif di organisasi dan selalu di tempatkan dibagian humas. Aku terlatih membuat design-design. Dan untuk yang ini, aku ingin sebaik mungkin. Aku membuatnya sesuai dengan warna kesukaan Syifa, merah marun dihiasi warna keemasan di tepinya. Menyibakkan harum surgawi. Tak tanggung-tanggung, aku pesan dua ribu lembar.`Masya Allah.

Semua kutangani dengan semangat. Mulai dari pakaian saat ijab kabul nanti, catering, tempat resepsi hingga ke undangan. Aku  mau menanganinya dengan sebaik-baiknya.

2hari yang lalu Syifa memesan lemari khas Jepara dan menyuruh pegawai meubel mengantarkan hadiahnya itu untuk ibuku.

Syifa makin menunjukkan kemjuan kesehatan. Dengan do’a dan semangat ia melalui hari-harinya.

Pekerjaan yang melelahkan. Data-data obat yang harus kuracik bersama rekanku di lab seolah tak ada apa-apanya lagi. Saat perjalanan menuju mes, seorang memberikanku selembar brosur. Sedang ada promo perumahan. Sebuah brosur berlatar belakang hijau dengan model ayah, ibu dan anak sedang berdiri di depan rumah yang tampak baru dan modern. Senyumnya sangat cerah, mengembang. Ciri keluarga bahagia nampaknya. Sebuah pemikiran pun melintas dalam pikiranku. Ah, bahagia rasanya. Sebentar lagi aku akan mengarungi biduk rumah tangga. Rencana-rencana berkeliaran di otakku.

Membeli dua rumah di daerah yang sama kalau bisa satu rumah besar sekaligus di daerah yang modern itu agar bisa ditempati bersama anak-anak asuh Syifa nanti.

Aku baca dengan teliti tulisan rapi di tepi bawahnya. “KPR”

Makin membuncah rencana-rencanaku. Masya Allah.

Malam hari bulan November, kondisi Syifa drop.Tekanan darahnya hanya 80/60mmHg, aku panik , aku  keluar dari mes seraya mengambil kunci motor di atas meja. Syifa sudah di rumah sakit Islam Jakarta Cempaka putih, rumah sakit terdekat dari rumahnya. Aku melarikan motor dan membelah kawasan RSCM. Hujan mengguyur tubuhku sepanjang perjalanan. Innalillah. Semoga Syifa baik-baik saja.

Ibu di Rangkas belum mengetahui kabar ini dan kuharap orang tua Syifa tak memberitahunya terlebih dahulu.

Dari depan kaca UGD kulihat wajah Syifa yang sangat menguning pucat, berbaring lemah di dalam sana. Tak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalam. Termasuk orang tua Syifa.

Asykira teman Syifa hanya termangu di kursi tunggu. Tangisnya pecah ketika berkata padaku,”Ia tak pernah memberi tahu pada orang tuanya bahwa ia terserang penyakit hati itu setahun yang lalu”

Innalillah.

Aku terduduk lemas di pojok tembok.

Aku merasa bodoh karena tak pernah memikirkan hal yang sangat penting seperti ini, pantas Syifa selalu datang sendiri ke RSCM. Rumah sakit umum.

Undangan itu, KPR yang telah berjalan dua bulan,sebuah perumahan modern di Jakarta Selatan. Mimpi-mipi itu. Allah, kuatkan Syifa.Aku melangkah ke luar dari lorong UGD. Mencoba menenangkan desakan batinku yang menyeruak. Dalam setiap udara yang kulalui aku mencari Allah, aku yakin hanya Allah yang bisa menyembuhkan Syifa.

Berhari-hari Syifa koma dan tak menunjukkan perkembangan yang baik. Do’a-do’a tak henti kulakukan agar Syifa mendapat yang terbaik. Aku bahkan meminta do’a dari teman-temanku, dari orang yang kutemui di jalan, dari dokter-dokter. Aku memohon kala malam menyerbu dingin.

Di Rumah sakit  Asykira tak henti menunggui Syifa, ia selalu membacakan Al-Qur’an di sampingnya, dengan sabar menanti kesadaran Syifa. Orang tua Syifa yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi anaknya, tak henti mereka mengucurkan air mata do’a.

Aku tersenyum menjawab senyum dingin Syifa. Kelopak matanya telah membiru dan wajahnya menguning kaku. Terperangkap jelas dalam bola mataku.

Jepara menjadi kota tempat Syifa beristirahat. Kuingat saat itu wajah-wajah terlelap dalam kesedihan itu. Namun semangat Syifa seolah masih ada dalam batinku. Syifa masih meninggalkan jejak-jejak senyumnya lewat anak-anak asuhnya. Pandangannya teduh menyusup dalam keridhaan sang Khalik.

Aku bangkit keluar dari kamar.

Kukatakan pada ibu,”Aku akan ke rumah asuh As-Syifa, dan aku yakin Syifa setuju dengan hal ini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s