Suhu dan Berat Badan

A. TUJUAN

  1. 1.    Suhu Badan

1.1     Mengetahui cara mengukur suhu badan

1.2  Mengetahui bagian tubuh yang efektif untuk tempat pengukuran suhu

1.3     Mengetahui perbedaan suhu yang terdapat pada beberapa bagian badan

1.4     Mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi suhu tubuh

 

  1. 2.    Berat Badan dan Tinggi Badan

1.1     Mengetahui cara mengukur berat badan dan tinggi badan

1.2     Mengetahui cara mengukur rentang berat badan ideal

1.3     Mengetahui nilai index massa tubuh (body mass index)

1.4     Mengetahui keadaan tubuh yang obesitas, normal, atau kekurangan nutrisi berdasarkan index massa tubuh

B. LANDASAN TEORI

Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi makanan, dan oleh semua proses vital yang berperan dalam tingkat metabolisme basal (Ganong, 2003). Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskreasi adalah elemen-elemen homeostatis. Termoregulasi merupakan proses hameostatis untuk menjaga agar suhu tubuh tetap dalam keadaan stabil atau steady state, dengan mengontrol dan mengatur keseimbangan antara banyaknya energi (panas) yag diproduksi (termogenesis) dengan energi (panas) yang dilepaskan (termolisis) (Suripto, 2010).

Suhutubuh dibedakan menjadi suhu inti (core temperature), suhu kulit (shell temperature), dan suhu tubuh rata-rata (mean body temperature).Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala, dada, abdomen) dan dipertahankan mendekati 37°C.Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan subkutan, dan batang tubuh.Suhu kulit berbeda dengan suhu inti karena dapat berfluktuasisesuai dengan suhu lingkungan. Suhu kulit merupakan suhu yang penting apabila kita merujuk pada kemampuan kulit untuk melepas panas ke lingkungan.Suhu tubuh rata-rata merupakan suhu rata-rata gabungan suhu inti dan suhu kulit.Suhu tubuh normal bervariasi sesuai irama suhu circardian (variasi diurnal).Suhu terendah dicapai pada pagi hari pukul 04.00 – 06.00 dan tertinggi pada awal malam hari pukul 16.00 – 18.00.Hasil pengukuran suhu tubuh bervariasi tergantung pada tempat pengukuran (El-Radhi, 2009 dalam Sunardi).

Berbagai bagian tubuh memiliki suhu yang berlainan, dan besar perbedaan suhu antara bagian-bagian tubuh dengan suhu lingkungan bervariasi.Ekstremitas umumnya lebih dingin daripada bagian tubuh lainnya.Suhu skrotum dipertahankan secara ketat pada 32oC.Suhu rektal dapat mencerminkan suhu inti tubuh dan paling sedikit dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan.Suhu mulut biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk makanan/minuman panas atau dingin, mengunyah permen karet, merokok, bernapas melalui mulut (Ganong, 2003).

 

Tabel 1. Suhu normal pada tempat pengukuran yang berbeda

Tempat pengukuran

Jenis thermometer

Rentang; rerata  suhu normal (oC)

Aksila Air raksa, elektronik 34,7 – 37,3; 36,4
Sublingual Air raksa, elektronik 35,5 – 37,5; 36,6
Rektal Air raksa, elektronik 36,6 – 37,9; 37
Telinga Emisi infra merah 35,7 – 37,5; 36,6

 

Suhu rektal normal 0,27o – 0,38oC (0,5o – 0,7oF) lebih tinggi dari suhu oral.Suhu aksila kurang lebih 0,55oC (1oF) lebih rendah dari suhu oral. Untuk kepentingan klinis praktis, pasien dianggap demam bila suhu rektal mencapai 38oC, suhu oral 37,6oC, suhu aksila 37,4oC, atau suhu membran tympani mencapai 37,6oC. Hiperpireksia merupakan istilah pada demam yang digunakan bila suhu tubuh melampaui 41,1oC (106oF).

 

 

 

 

 

Gambar 1.Estimasi rentang suhu inti pada individu normal.

(Guyton,2006)

 

Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu; (1) Aktivitas, semakin beratnya aktivitas maka suhunya akan meningkat 15 kali sedangkan pada atlet yang telah terlatih dapat meningkat menjadi 20 kali dari basal ratenya (2) Hormon thyroid, (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur utama basal metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan yang dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15% (3) Sistem syaraf, selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh (4) Metabolisme tubuh, meningkatnya metabolisme rate dapat meningkatkan suhu tubuh, setiap peningkatan 1 % suhu tubuh inti berarti kecepatan reaksi biokimia meningkatkan 10 % (5) Asupan makanan, makanan dapat meningkatkan 10 – 20 % metabolisme rate terutama protein (6) Berbagai macam factor seperti: jenis kelamin, iklim dan status malnutrisi. Sesuai dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih tinggi daripada wanita.Suhu tubuh wanita dipengaruhi daur haid. Pada saat ovulasi, suhu tubuh wanita pada pagi hari saat bangun meningkat 0,3-0,5°C.

Suhu tubuh merupakan pencerminan panas tubuh.Sebagaimana energi tubuh yang mengikuti hukum termodinamika, panas tubuh sebagai salah satu bentuk energi juga mengikuti hukum tersebut.Pembentukan panas adalah produk utama motabolisme.Sebagian besar produksi panas dalam tubuh dihasilkan oleh organ dalam terutama di hati, otak, jantung dan organ rangka selama berolahraga. Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit yang kemudian di buang  ke udara dan lingkungan sekitar (Guyton, 2006).

Pengaturan suhu di kendalikan oleh keseimbangan antara pembentukan panas dan kehilangan panas. Bila laju pembentukan panas di dalam tubuh lebih besardaripada laju hilangnya panas, panas akan timbul di dalam tubuh dan suhu tubuh akan meningkat, sebaliknya bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh akan menurun(Silverthon, 2004).

 

Gambar 2. Keseimbangan energy (Silverthon, 2004)

Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh adalah suatu  kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yaitu preoptic area. Area ini menerima impuls-impuls syaraf dari termoreseptor dari kulit dan membran mukosa serta dalam hipotalamus.Neuron-neuron pada area preoptic membangkitkan impuls syaraf pada frekwensi tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika suhu tubuh menurun.Impuls-impuls syaraf dari area preoptic menyebar menjadi dua bagian dari hipotalamus yang diketahui sebagai pusat hilang panas dan pusat peningkatan panas.

Mekanisme pengaturan suhu tubuh manusia erat kaitannya antara kerja sama system syaraf baik otonom, somatic dan endokrin. Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat.Hipotalamus posterior (PH/ POA) berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil, menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon tiroid dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal metabolisme rate. Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi mekanisme homeostasis yang membantu memproduksi panas melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke arah normal (Tortora, 2000 dalam Sunardi).

Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic dan pusat peningkatan panas di hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus yang menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon) sebagai tanggapan.Hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk melepaskan TSH (Thyroid stimulating hormon).Impuls syaraf dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan beberapa organ efektor untuk meningkatkan suhu tubuh.

Hipotalamus dapat mengatur keseimbangan suhu tubuh dengan mempengaruhi pembuluh darah kulit, pendinginan kulit, atau hipotalamus dapat menimbulkan vasokonstriksi atau vasodilatasi pembuluh darah kulit. Pelepasan panas dirangsang oleh vasoditalasi (pelebaran pembuluh darah) dalam kulit dan oleh pengeluaran keringat, penyimpanan panas oleh vasokonstriksi (penyempitan saluran darah) dan pengurangan keringat. Bila suhu tubuh diturunkan karena vasokonstriksi yang berlangsung lama, yang barang kali disebabkan dingin atau kelaparan, maka dapat terjadi gigil dan gemetar kalau otot berkonstraksi untuk menghangatkan tubuh.

Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air (Sherwood, 1993). Radiasi ialah emisi energi panas dari permukaan tubuh dalam bentuk gelombang elektromagnetik melalui suatu ruang.Konduksi ialah perpindahan panas antara obyek yang berbeda suhunya melalui kontak langsung obyek tersebut.Konveksi ialah perpindahan panas melalui aliran udara/ air.Evaporasi ialah perpindahan panas melalui ekskresi air dari permukaan kulit dan saluran pernapasan saat bernapas.

 

Gambar 3.Mekanisme kehilangan panas dari tubuh (Guyton, 2006)

Panas dihantarkan dari kulit ke lapisan udara yang terperangkap oleh baju, dari bagian dalam baju ke luarnya, dan dari bagian luar baju ke eksterior.Besarnya pemindahan panas melalui baju, yang merupakan penentu utama bagaimana hangat atau dinginnya baju terasa, tetapi faktor-faktor lain terutama banyaknya udara hangat yang terperangkap, juga penting.Baju yang gelap menyerap radiasi panas, dan baju berwarwa terang memantulkan panas ke luar (Ganong, 2003).

Pemeriksaan dan pemantauan suhu adalah salah satu indikator penting  dalam mengkaji kondisi kesehatan. Alat yang sering digunakan dalam pemeriksaan suhu adalah termometer. Suhu tubuh biasanya diukur untuk memastikan ada  tidaknya demam. Namun,masih ada kontroversi mengenai termometer yang paling tepat dan tempat terbaik untukpengukuran temperatur.

Suhu inti secara umum didefinisikan sebagai pengukuran suhudalam arteri  paru-paru. Standar lain dalam pemantauan suhu inti adalah esophagusdistal, kandung kemih, dan nasofaring yang akurat ke dalam 0,1-0,2°C dari suhu inti.

Namun,pengukuran suhu inti sulit dilakukan karena menimbulkan  ketidaknyamanan. Beberapa tempat yang dapat dilakukan dalam pengukuran suhu tubuh adalahmelaui  ketiak,  kulit,  di  bawah  dubur,  lidah,  dan  membran  timpani.  Studi  terbarumenunjukkan bahwa temperatur timpani akurat dalam mengidentifikasi  suhu inti.

Akurasi  dari  pengukuran  temperatur dipengaruhi  oleh  seberapa  baik  pemeriksa menggunakan peralatan,misalnyabagaimana probe diposisikan dan apakah lama probe  di  letakan  pada  posisi  tersebut  sudah  tepat.  Hal  ini  berlaku ke perangkat kontak  langsung,  seperti  elektronik  pengukuran  termometer  oral  atau  suhu  ketiak, dan untuk non-kontak energi seperti perangkat infrared, seperti termometer telinga.

Penempatan dari termometer di bawah lidah bisa mengakibatkan perbedaan besar dalam mencatat  suhu. Fisiologi rongga mulut memungkinkan variasi suhu jaringan.Penempatan probe yang salah dalam mulut telahdilaporkan mengakibatkan perbedaan suhu sebesar 1,7°C. Probe  harus  tetap  pada sublingual  untuk periode waktu tertentu untuk memastikan pengukuran oral akurat.  Periode  ini  umumnyabeberapa detik untuk thermometer elektronik kontak dalam model prediktif, tetapi pada model monitor pengukuran yang sama mungkin memakan  waktu tiga menit atau lebih. Satu menit diperlukan untuk termometer kimia. Waktu  pengukuran yang  diperlukan ditentukan oleh waktuyang dibutuhkan untuk suhu  probe untuk  menyeimbangkan dengan  yang areakontak.

Penempatan yang benar dalam pengukuran suhu aksila dan kontak kulit secara langsung adalah penting. Termometer ditempatkan dibawah lengan denganbagian ujungnya berada di  tengah aksila dan jaga agar menempel pada kulit, bukan  pada pakaian. Termometer elektronik kontak membutuhkan waktu 5 menit untuk  mengukur suhu yang akurat.

Pengukuran berat badan dan tinggi badan merupakan salah satu jenis pengukuran antropometrik, yaitu pengukuran terhadap ukuran dan komposisi tubuh. Pengukuran ini menunjukkan keseimbangan antara kalori yang tersedia dengan pengeluaran energi, massa otot, lemak tubuh dan penyimpanan protein.

Kegemukan didefinisikan sebagai kandungan lemak berlebihan di simpanan jaringan adiposa. Batas kegemukan umumnya adalah 20% melebihi standar normal. Kegemukan terjadi jika, selama periode waktu tertentu, kilokalori yang masuk melalui makanan lebih banyak daripada yang digunakan untuk menunjang kebutuhan energi tubuh, dan kelebihan energi tersebut disimpan sebagai trigliserida di jaringan lemak. Sebagian faktor yang mungkin berperan adalah: (1) gangguan emosi dengan makan berlebihan yang menggantikan rasa puas lainnya, (2) pembentukan sel-sel lemak dalam jumlah berlebihan akibat pemberian makanan berlebihan, (3) gangguan endokrin tertentu, misalnya hipotiroidisme, (4) gangguan pusat pengatur kenyang-selera makan (satiety-appetite center) di hipotalamus, (5) kecenderungan herediter, (6) kelezatan makanan yang tersedia, dan (7) kurang olahraga. (Sherwood,2001)

Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi  dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh konsumsi makanan yang berlebihan, sedangkan keluaran energi rendah disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh, aktivitas fisik dan efek termogenesis makanan.

Obesitas pada manusia merupakan masalah kesehatan yang penting karena berhubungan dengan peningkatan insiden penyakit kardiovasikular, penyakit kandung empedu, diabetes, dan keadaan-keadaan lain dan peningkatan angka kematian (Ganong,2001).

Pengukuran lemak tubuh, massa dan distribusinya memerlukan berbagai teknik dan belum ada pengukuran yang seratus persen memuaskan.  Seringkali dibutuhkan kombinasi pengukuran untuk menentukan risiko suatu penyakit.Perhitungan secara langsung menggunakan densitometri, cairan tubuh total, kalium tubuh total, dan  uptake of lipid-soluble inert gases. Secara tidak langsung cadangan lemak dapat dinilai dengan mengukur ketebalan lipatan kulit dan Indeks Massa Tubuh.Selain itu untuk melihat distribusi lemak dapat digunakan rasio lingkar pinggang terhadap lingkar pinggul (Arisman, 2004).

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta berkorelasi tinggi dengan massa lemak tubuh, selain itu juga penting untuk mengidentifikasi pasien obesitas yang mempunyai risiko mendapat komplikasi medis.

IMT mempunyai keunggulan utama yakni menggambarkan lemak tubuh yang berlebihan, sederhana dan bisa digunakan dalam penelitian populasi berskala besar (Arisman, 2004). Pengukurannya hanya membutuhkan 2 hal, yakni berat badan dan tinggi badan, yang keduanya dapat dilakukan secara akurat oleh seseorang dengan sedikit latihan. Keterbatasannya adalah membutuhkan penilaian lain bila dipergunakan secara individual (Egger, 1996).

Salah satu keterbatasan IMT adalah tidak bisa membedakan berat yang berasal dari lemak dan berat dari otot atau tulang. IMT juga tidak dapat mengidentifikasi distribusi dari lemak tubuh. Sehingga beberapa penelitian menyatakan bahwa standar  cut off point untuk mendefinisikan obesitas berdasarkan IMT mungkin tidak menggambarkan risiko yang sama untuk konsekuensi kesehatan pada semua ras atau kelompok etnis.

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defesiensi kalori ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategorigemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil penelitian dibeberapa negara berkembang.  Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.Batas Ambang IMT untuk Indonesia

  Kategori IMT
Kurus

Kekurangan berat badan tingkat berat

< 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 – 18,4
Normal

18,5 – 25,0
Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan

25,1 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat

> 27,0

 

Penyediaan makanan dalam hubungan dengan kesehatan, World Health Organisation merumuskan kesehatan sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan (Evelyn, 2006). Jenis makanan yang masuk juga penting. Kalori yang diperlukan untukmengubah lemak makanan menjadi lemak simpanan lebih sedikit dibandingkan dengan kalori yang diperlukan untuk mengubah karbohidrat atau protein makanan menjadi lemak simpanan.Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.

Seseorang yang termasuk dalam kategori kurus dapat disebabkan konsumsi energi yang lebih rendah dari kebutuhan sehingga mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan. Selain itu, juga mungkin disebabkan oleh penyakit tertentu.Oleh karena itu dianjurkan untuk memeriksakan kesehatannya pada tenaga medis.Sebaliknya, kelebihan berat badan terjadi bila makanan yang dikonsumsi mengandung energi melebih kebutuhan tubuh. Kelebihan energi tersebut akan disimpan tubuh sebagai cadangan dalam bentuk lemak sehingga mengakibatkan seseorang menjadi lebih gemuk.Sedangkan, berat badan ideal bisa diwujudkan dengan mengkonsumsi energi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tubuh, sehingga tidak terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak, maupun penggunaan lemak sebagai sumber energi.

 

C. METODE

  1. 1.    Suhu Tubuh

1.1     Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai suhu tubuh dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Februari 2012 Pukul 08.00 s/d 09.40 WIB di Laboratorium Fisiologi Universitas Negeri Jakarta

 

1.2     Alat dan Bahan

Termometer oral, termometer aksila, timer, alat tulis, tissue, alkohol

70 %, air es.

 

1.3     Cara Kerja

1.3.1     Pengukuran suhu aksila

 

 

1.3.2     Pengukuran suhu oral

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.    Berat Badan dan Tinggi Badan

2.1     Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai berat badan dan tinggi badan dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Februari 2012 Pukul 08.00 s/d 09.40 WIB di Laboratorium Fisiologi Universitas Negeri Jakarta

 

2.2     Alat dan Bahan

Timbangan berat badan, alat pengukur tinggi dengan skala centi meter (cm), alat tulis.

 

2.3     Cara Kerja

2.3.1     Pengukuran Berat Badan

 

 

 

 

 

2.3.2     Pengukuran Tinggi Badan

 

2.3.3

2.3.4

2.3.5

2.3.4     Rumus Pengukuran Berat Badan Ideal dan Index Massa Tubuh

Berat badan ideal laki-laki =

[TB (cm)– 100] ±[(TB (cm)– 100) x 10%]

Berat badan ideal perempuan =

[TB (cm)– 100] ±[(TB (cm)– 100) x 15%]

(Broca’s Index. Sumber: Mémoires d’anthropologie. Paris, 1871/1877)

 

Indeks  Massa Tubuh = Berat badan (kg)

Tinggi badan2(m)

(Sumber: WHO 2004,

http://apps.who.int/bmi/index.jsp?introPage=intro_3.html)

 

E. HASIL PENGAMATAN:

No.

Nama OP

Usia (th)

Jenis Kelamin

Suhu Aksila

Nama OP

Suhu Oral

Kumur Air Es

Istirahat

Aktivitas

Mulut tertutup

Mulut terbuka

5’

10’

5’

10’

1.

Fitri

21

P

37,3°C

37,4°C

Esa

37°C

37°C

38°C

37°C

37,2°C

2.

Daus

21

L

36,5°C

37°C

3.

Atsnah

20

P

36,2°C

36,4°C

4.

Vera

21

P

35,8°C

36°C

Fadli

36,7°C

37,1°C

37,5°C

36,5°C

37,1°C

5.

Singgih

20

P

37°C

37°C

6.

Dwi

22

P

36,1°C

36,8°C

  1. 1.    Tabel Pengamatan Suhu Tubuh

 

  1. 2.    Tabel Pengamatan Berat Badan, Tinggi Badan, dan Nilai IMT

 

No.

Nama OP

Usia(th)

Jenis Kelamin

Berat Badan (kg)

Tinggi Badan (cm)

Berat Badan Ideal (kg)

IMT (kg/m2)

Keterangan

1

Rezki

19

L

94

175

58,5-71,5

30,69

Obesitas Kelas 1

2

Qorin

20

P

41

154

39,6-48,4

17,08

Kekurangan nutrisi (ringan)

3

Putri

22

P

54

156

41,4-50,6

22,2

Normal

4

Ria

20

P

49

162

46,8-57,2

18,64

Normal

5

Singgih

20

P

54

163

47,7-58,3

20,32

Normal

6

Rizky

19

P

46

159

44,1-53,9

18,2

Kekurangan nutrisi (ringan)

 

 

F. PEMBAHASAN

1. Suhu Tubuh

Pada praktikum kali ini, pengamatan suhu tubuh dilakukan pada bagian tubuh yang berbeda, yakni aksila dan oral. Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan hasil bahwa rentang suhu aksila saat istirahat pada setiap objek praktikum bervariasi, yaitu dalam rentang 35,8°C- 37,3°C dengan suhu rata-rata 36,8°C. Hasil ini menunjukkan persamaan dengan literature yang menyebutkan bahwa suhu pada aksila memiliki rentang yaitu 34,7°C – 37,3°C dan jika dirata-ratakan maka sebesar 36,4°C (El-Radhi, 2009 dalam Sunardi).

Dari data hasil pengamatanpraktikum suhu tubuh, diperoleh hasil bahwa setiap OP (orang percobaan) memiliki suhu tubuh pada keadaan istirahat yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan banyak faktor,  diantaranya jenis kelamin, kecepatan laju metabolisme, status malnutrisi, dan bahkan daur haid pada perempuan.  Fitri mempunyai suhu suhu tubuh dalam keadaan istirahat yang paling tinggi, karena sedang berada pada fase menstruasi.

Setelah OP melakukan aktivitas selama ±10 menit, suhu tubuh OP meningkat, ini terjadi karena selama beraktivitas panas yang dihasilkan oleh kontraksi otot berakumulasi dalam tubuh. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh ketidakmampuan mekanisme pembuangan panas untuk mengatasi pembentukan panas yang sangat besar. Selain itu terdapat bukti bahwa pada saat beraktivitas terjadi peningkatan suhu saat mekanisme pembuangan panas diaktifkan.            Namun pada salah satu OP, yang bernama Singgih, tidak terdapat perbedaan suhu tubuh pada keadaan istirahat dan sesudah melakukan aktivitas. Hal ini lterjadi karena kesalahan tekhnis praktikan yang tidak mengkalibrasi termometer sebelum digunakan.

Peningkatan suhu tubuh OP setelah melakukan aktivitas berkisar antara0,1o sampai dengan 0,7o C. Besar peningkatan suhu yang berbeda-beda ini disebabkan oleh kecepatan metabolisme yang berbeda, berat atau ringannya aktivitas yang dilakukan, dan jenis pakaian yang dikenakan. Peningkatan suhu pada Dwi adalah yang terbesar, hal ini dipengaruhi sebagian besar oleh jenis pakaian yang dikenakan. Dwi mengenakan beberapa lapis pakaian panjang, jilbab, dan jaket berwarna gelap.

Besarnya pemindahan panas melalui baju, yang merupakan suatu fungsi dan tekstur dan ketebalan baju, merupakan penentu utama bagaimana hangat atau dinginnya baju terasa, tetapi faktor-faktor lain, terutama banyaknya udara hangat yang terperangkap, juga penting. Baju yang gelap menyerap radiasi panas dan baju warna terang memantulkan panas ke luar.

Pengukuran suhu pada oral dengan 3 perlakuan yaitu mulut tertutup, mulut terbuka dan berkumur dengan air es selama 2 menit. Diperoleh data bahwa pada mulut tertutup, suhu oral OP berkisar pada 36,7o – 37oC yang berarti data ini sesuai dengan teori, yaitu suhu oral berkisar antara 36,5oC – 37,5oC. Pada perlakuan pertama yaitu dengan membuka mulut selama 5 menit data yang didapat seharusnya suhu mengalami penurunan karena pada saat mulut di buka panas di dalam mulut dilepaskan ke lingkungan karena suhu lingkungan lebih rendah dari suhu oral. Pada 5 menit kedua suhu oral meningkat kembali, hal ini dikarenakan suhu lingkugan yang masuk ke oral kembali meningkat.

Pada perlakuan berkumur air es selama 2 menit seharusnya suhu oral pada setiap OP menurun karena suhu air es yang dimasukkan ke oral lebih rendah daripada suhu tubuh. Ini artinya apabila suhu lingkungan dingin, maka tubuh akan memproduksi panas yang berasal dari posterior hipotalamus.

Kesalahan – kesalahan yang terjadi pada pengukuran suhu oral disebabkan penempatan probe yang tidak tepat dibawah sublingual. Penempatan probe yang salah dalam mulut telah dilaporkan mengakibatkan perbedaan suhu sebesar 1,7oC. Selain itu, fisiologi rongga mulut juga memungkinkan variasi suhu jaringan.

2. index Massa Tubuh

Pada praktikum ini, didapatkan hasil perhitungan indeks masa tubuh yang berbeda-beda.Hal ini dikarenakan Karena berat badan dan tinggi badan dari masing-masing objek praktikum pun berbeda-beda.Berat, tinggi dan luas permukaan badan berkorelasi baik dengan kecepatan metabolisme. Seperti yang disebutkan oleh Ganong bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan metabolism diantaranya pengerahan otot selama atau tepat sebelum pengukuran, baru makan, suhu lingkungan yang tinggi atau rendah, tinggi badan, berat badan, dan luas permukaan badan, jenis kelamin, umur, pertumbuhan, reproduksi, laktasi, keadaaaan emosi, suhu badan, kadar hormone tiroid dalam sirkulasi, kadar epinefrin dan norepinefrin dalam sirkulasi.

 

G. KESIMPULAN

  1. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dengan bantuan termometer
  2. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan pada beberapa bagian tubuh antara lain aksila, oral, rektal dan timpani.
  3. Suhu rektal normal 0,27o – 0,38oC (0,5o – 0,7oF) lebih tinggi dari suhu oral. Suhu aksila kurang lebih 0,55oC (1oF) lebih rendah dari suhu oral.
  4. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi suhu tubuh yaitu aktivitas, sekresi hormon, usia, jenis kelamin, metabolisme tubuh dan lain –lain.
  5. Perbedaan berat badan disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya nutrisi, asupan gizi, aktivitas,olahraga, jenis kelamin dan sebagainya.selain itu faktor genetik bisa juga mempengaruhi berat badan dan tinggi badan seseorang.
  6. Untuk mengetahui apakah tubuh termasuk dalam kategori obesitas, normal, atau kekurangan nutrisi dapat digunakan penghitungan Indeks Massa Tubuh

                                                                                                                   

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Agustini Utari.2007. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Tingkat Kesegaran Jasmani  padaAnak Usia 12-14 Tahun. Tesis. Semarang. Universitas Diponegoro

Arisman. 2004.Gizi Dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta.

Egger G, Swinburn B. 1996.The Fat Loss Handbook. Australia: Allen & Unwin

Ganong, William F. 2003. Buku Ajar Fisiologi kedokteran.EGC. Jakarta.

Guyton, Arthur C. 2006. Textbook of Medical Physiology .Elsevier. Philadelpia

Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka  Utama. Jakarta

Rizaldy Pinzon . 1999. Indeks Massa Tubuh sebagai Faktor Risiko Hipertensi pada Usia Muda .Cermin Dunia Kedokteran No. 123: 9 – 11

Sherwood, Lauralee. 2009. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. EGC. Jakarta.

Sunardi. Control Persarafan Terhadap Suhu Tubuh. http://staff.ui.ac.id/internal/1308050290/material/thermoregulation.pdf diunduh pada tanggal 22 Februari 2012 pukul 19.51 WIB.

Suripto. 2010. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB. Jakarta

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. EGC. Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s