Denyut Jantung

Tujuan:

  1. Mengetahui tempat pengukuran denyut jantung
  2. Mengetahui karakteristik denyut jantung
  3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung
  4. Mengetahui cara mengukur denyut jantung
  5. Mengukur denyut jantung

 

Dasar Teori:

Denyut jantung (denyut apikal) adalah bunyi yang terdengar melalui stetoskop selama kontraksi jantung. S1 adalah bunyi akibat tertutupnya katup trikuspidalis dan mitral. Sedangkan S2 adalah bunyi akibat tertutupnya katup pulmonal dan atrial. Setiap denyut merupakan kombinasi antara bunyi jantung S1 dan S2. kecepatan normal denyut jantung pada orang dewasa adalah 55 sampai 90 kali/ menit dengan rata-rata 70 kali/ menit. Denyut apikal merupakan pengukuran frekuensi dan irama kontraksi jantung yang paling banyak (Refirmanet all, 2007).

Kecepatan denyut jantung dalam keadaan sehat berbeda-beda, dipengaruhi oleh penghidupan, pekerjaan, makanan, umur, dan emosi. Irama dan denyut sesuai  dengan siklus jantung. Kalau jumlah denyut ada 70 maka berarti siklus jantung 70 kali semenit juga (Evelyn, 2006).

Dua bunyi jantung utama dalam keadaan normal dapat didengar dengan stetoskop selama siklus jantung. Bunyi jantung pertama bernada rendah, lunak, dan relatif lama – sering dikatakan terdengar seperti ”lub”. Bunyi jantung kedua memiliki nada yang memiliki nada yang lebih tinggi, lebih singkat dan tajam – sering dikatakan terdengar seperti ”dup”. Dengan demikian, dalam keadaan normal terdengar ”lub, dup, lub, dup, lub, dup, . . . .” Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup AV, sedangkan bunyi kedua berkaitan dengan penutupan katup semilunaris. Pembukaan katup tidak menimbulkan bunyi apapun. Bunyi timbul karena getaran yang terjadi di dinding ventrikel dan arteri-arteri besar ketika katup menutup, bukan oleh derik penutupan katup. Karena penutupan katup AV terjadi pada awal kontraksi ventrikel ketika tekanan ventrikel pertama kali melebihi tekanan atrium, bunyi jantung pertama menandakan awitan sistol ventrikel. Penutupan katup semilunaris terjadi pada awal relaksasi ventrikel ketika tekanan ventrikel kanan dan kiri turun di bawah tekanan aorta dan arteri pulmonalis. Dengan demikian, bunyi jantung kedua menandakan permulaan diastol ventrikel (Sherwood, 2001).

Debaran jantung atau lebih tepat deparan apex, adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel. Debaran ini dapat diraba, dan sering terlihat juga pada ruang interkostal kelima kiri, kira-kira empat sentimeter dari garis tengah sternum.

Pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar sekitar 70 kali semenit dan memompa 70ml setiap denyut (volume denyutan adalah 70 ml). Jumlah darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter. Sewaktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit. Tiap menit sejumlah volume yang tepat sama kembali dari vena ke jantung. Akan tetapi, bila pengembalian dari vena tidak seimbang dan ventrikel gagal mengimbanginya dengan daya pompa jantung, maka terjadi payah jantung. Vena-vena besar dekat jantung menjadi membengkak berisi darah, sehingga tekanan dalam vena naik. Dan kalau keadaan ini tidak dapat ditangani maka terjadi udema.

Udema karena payah jantung sebagian karena adanya tekanan-balik di dalam vena yang meningkatkan perembesan cairan keluar dari kapiler dan sebagian karena daya pompa jantung rendah yang juga mengurangi pengantaran darah ke ginjal. Maka ginjal gagal mengeluarkan garam. Penimbunan garam menyebabkan penimbuanan air (Evelyn, 2006).

Urutan normal bagian-bagian jantung yang berdenyut: kontraksi atrium (sistolik atrium) diikuti oleh kontraksi ventrikel (sistolik ventrikel) dan selama diastolik ke empat ruangan relaksasi. Denyut jantung berasal khusus dari sistem konduksi jantung dan menyebar melalui sistem ini ke seluruh bagian miokardium. Struktur yang membentuk sistem konduksi adalah nodus sinoatriale (nodus SA), lintasan internodal atrium, nodus atrioventrikuler (nodus AV), berkas His, cabang-cabangnya, dan sistem Purkinye. Berbagai bagian sistem konduksi ini dan, dalam keadaan abnormal, bagian-bagian miokardium secara spontan mampu mengeluarkan rangsangan. Tetapi dalam keadaan normal nodus SA mengeluarkan impuls paling cepat, depolarisasi menyebar dari SA ke bagian-bagian lain sebelum bagian ini mengeluarkan impuls secara spontan. Oleh karena itu, dalam keadaan normal vodus SA merupakan alat pacu jantung (pacemaker) normal, kecepatan mengeluarkan impuls menentukan frekuensi denyut jantung. Impuls yang ditimbulkan paada nodus SA berjalan melalui lintasan atrium ke nodus AV, melalui lintasan atrium ke nodus AV, melalui nodus ini ke bunder His dan melalui cabang-cabang berkas His dengan perantaraan sistem Purkinye ke otot ventrikel (Ganong, 2001).

Olahraga memang baik untuk kesehatan kita. Namun, bila terlalu berat dan melebihi batas kekuatan tubuh dan atau juga kurang, olahraga justru akan menjadi tidak efektif.Batas-batas kekuatan tubuh dapat dilihat dari detak jantung selama berolahraga. Memonitor detak jantung saat berolaraga sebaiknya dilakukan sebagai bagian dalam latihan rutin Anda. Pemonitoran detak jantung ini akan membuat latihan Anda lebih aman dan lebih efektif.

Di bawah ini ada cara mudah untuk mengetahui batas-batas detak jantung Anda:

– Perkirakan maksimum detak jantung Anda dengan melakukan pengurangan dari 220 dengan jumlah umur Anda.

– Mengetahui batas bawah detak jantung Anda saat berolahraga, dengan mengalikan detakjantungmaksimumAndadengan0,6.

– Mengetahui batas atas detak jantung Anda saat berolahraga, dengan mengalikan

detak jantung maksimum Anda dengan 0,9 (www.keluargasehat.com).

Dr. Lynn Fitzgerald, seorang ahli kekebalan tubuh pada Rumah Sakit George di London dan juga juara dunia 200 km wanita, menguji darah para pelari setelah pertandingan 100 km dan menemukan tingkat antibody mereka rendah. Bahkan sangat rendah dibandingkan sebelum pertandingan. Tampaknya bahwa T-sel (antibody) tertekan oleh tingginya kadar adrenalin dan kortikosteroid (hormon stress) yang dihasilkan oleh latihan gerak badan itu. Sementara gerak badan yang secukupnya (sedang) meningkatkan sistim kekebalan, terlalu banyak gerak badan melemahkan tubuh.

 

Alat:

v  Stetoskop

v  Jam

v  Lampu senter

 

Cara Kerja:

  1. OP diminta berbaring/ duduk dengan tenang. Dilepaskan pakaian sehingga dada bagian kiri dapat terlihat. Diberikan sinar pada dada bagian kiri di daerah interkostal kelima sebelah dalam garis midklavikula agar denyut jantung terlihat lebih jelas.
  2. Dengan palpasi, ditentukan letak apeks jantung (tempat dimana denyut jantung teraba paling kuat). Diletakkan stetoskop pada apeks dan auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 (terdengar seperti ” lub dub”). Bila irama S1 dan S2 terdengar teratur, dihitung kecepatannya selama 30 detik. Diulangi latihan ini sampai memperoleh hasil yang sama.
  3. OP diminta melakuakn aktivitas (olahraga) selama 10 menit. Dilakukan pengukuran denyut jantung dengan cara yang sama seperti di atas dan dicatat hasil pengukuran.

 

Hasil Pengamatan:

Tabel Pengamatan Denyut Jantung

 

No.

Nama OP

Usia

Jenis Kelamin

Denyut Jantung

Kecepatan

Irama

Kekuatan

Istirahat

Aktivitas

Istirahat

Aktivitas

Istirahat

Aktivitas

1. Joko 21 Pria 76 126 Teratur Teratur Kuat Kuat
2. Santi 20 Wanita 70 88 Teratur Teratur Kuat Kuat
3. Hidayah 21 Wanita 83 90 Teratur Teratur Kuat Kuat
4. Chafid 20 Pria 77 110 Teratur Teratur Kuat Kuat
5. Novi 20 Wanita 84 100 Teratur Teratur Kuat Kuat
6. Dina 20 Wanita 86 110 Teratur Teratur Kuat Kuat
7. Hane 20 Wanita 74 130 Tdk Trtr Teratur Kuat Kuat
8. Ervan 20 Pria 76 125 Teratur Teratur kuat Kuat
9. Bayuni 20 Wanita 74 102 Teratur Teratur Kuat Kuat
10. Rose 20 Wanita 93 100 Teratur Teratur Lemah Lemah
11. Jajang 20 Pria 94 104 Teratur Teratur Kuat Kuat
12. Laelatul 20 Wanita 88 142 Teratur Teratur Kuat Kuat
13. Pratiwi 20 Wanita 80 110 Teratur Teratur Sedang Kuat
14. Fitri 20 Wanita 88 130 Teratur Teratur Kuat Kuat
15. Arfi 19 Pria 70 86 Teratur Teratur Kuat Kuat
16. Retno 20 Wanita 66 88 Teratur Teratur Kuat Kuat

 

Pembahasan:

Pengamatan denyut Jantung kali ini menggunakan data kelas yang setiap kelompok meberikan data dua dari data kelompoknya. Untuk kedua OP yang sekelompok, Bayuni dan Rose memiliki kecepatan denyut jantung yang normal yang berkisar antara 74 kali/menit – 93 kali/menit pada waktu istirahat dan setelah melakukan aktivitas kecepatannya berkisar antara 102 kali/menit – 100 kali/menit. Perubahan kecepatan denyut jantung itu dikarenakan OP yang melakukan aktivitas karena aktivitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan laju denyut jantung. Selain itu suhu tubuh juga mempengaruhi keadaan denyut jantung. Berdasarkan data pengamatan kelas ternyata denyut jantung kelas kami umumnya OP memiliki rata-rata denyut Jantung dikisaran normal 80an saat istirahat dan 100an pada saat aktivitas. Hal ini menunjukan OP kelas tergolong sehat. Denyut jantung juga dapat dipengaruhi oleh Epinefrin bila OP berada dalam keadaan stress, selain itu pengukuran denyut jantung semestinya berdasar pada satu ketukan (Lub atau Dub saja) mengingat kami tidak mengamati OP satu demi satu dalam pengambilan data. Menurut refrensi, kecepatan normal denyut jantung orang deawasa berkisar antara 55 sampai 90 kali/ menit.

Dari hasil percobaan diperoleh data yang berbeda-beda. Kecepatan normal denyut jantung pada orang dewasa adalah 55 sampai 90 kali/menit dengan rata-rata 70 kali/menit. Hasil pengamatan dari keseleruhan OP diperoleh data bahwa secara umum semua OP memiliki kecepatan normal denyut jantung. OP yang memiliki kecepatanl denyut jantung agak rendah adalah OP yang bernama Retno dengan kecepatan denyut jantung 66 kali/menit pada waktu istirahat dan setelah melakukan aktivitas 88 kali/menit. kecepatan denyut jantungnya ini masih tergolong rata-rata kecepatan normal denyut jantung. Hal ini bisa terjadi karena kecepatan denyut jantung pada saat aktivitas dipengaruhi oleh suhu tubuh yang naik sehingga mempengaruhi metabolisme tubuh OP tersebut dan kekuatan jantung memompa darah. Pada saat aktivitas jantung memompa darah dengan cepat, sehingga laju denyut jantung juga menjadi cepat. Atau OP yang bernama Retno memiliki tekanan darah yang rendah, sehingga tekanan darah OP tersebut pada saat melakukan percobaan berada di bawah kecepatan normal denyut jantung. Berdasarkan pengamatan tekanan darah Retno saat istirahat yaitu 120/70(mmHg).

Hal selanjutnya yang diamati adalah irama dan kekuatanya. Adanya irama pada jantung disebabkan oleh pukulan ventrikel kiri terhadap dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel. Pada hasil pengamatan diperoleh data bahwa terdapat hasil irama denyut jantung yang teratur dan ada juga yang tidak teratur. Pada semua OP didapat hasil bahwa pada waktu istirahat denyut jantung teratur dan setelah melakukan aktivitas denyut jantung tetap teratur. Irama denyut jantung yang terdengar berasal dari bergolaknya darah yang disebabkan oleh menutupnya katup jantung. Irama denyut jantung pada waktu istirahat seharusnya tidak teratur, karena biasanya pada keadaan istirahat waktu antara suara jantung kedua dengan suara jantung pertama berikutnya kira-kira 2 kali lebih lama daripada waktu antara suara jantung pertama dan suara jantung kedua dalam satu siklus. Namun pada data pengamatan umumnya OP teratur, pengambilan data memungkinkan hal ini terjadi. Kami tidak dapat memastikan bagaimana proses pengambilan data pada setiap OP melihat keterbatasan waktu yang dimiliki. Kekuatan denyut jantung dipengaruhi jumlah darah yang keluar dari ventrikel kiri (ventrikel kanan) ke dalam aorta (arteri pulmonalis) setiap menit jumlah darah yang keluar tersebut dipengaruhi oleh: volume darah yang dipompa ventrikel setiap berdenyut dan jumlah denyut jantung setiap menit, sehingga seharusnya denyut jantung yang terjadi ada yang kurang, sedang dan kuat.

Pada pengamatan secara umum didapatkan kekuatan denyut jantungnya yaitu kuat saat istirahat dan kuat saat aktivitas. Namun demikian ada satu OP yaitu Pratiwi yang kekuatan denyut jantungnya sedang ketika istirahat.Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas sehari-hari. Seharusnya kekuatan denyut jantung sedang saat istirahat dan kuat setelah aktivitas.

Pada OP Bayuni kekuatannya jantung pada aktivitas dan istirahat kuat. Hal ini disebabkan karena mungkin pada saat percobaan OP dalam keadaan sehat dan aktivitas sehari-hari yang cukup padat sehingga mempengaruhi keteraturan irama dan kuatnya denyut jantung. Sedangkan pada OP Rose pada saat istirahat kekuatan jantung lemah begitu pula setelah aktivitas. Hal ini disebabkan karena dimungkinkan OP Rose memiliki aktivitas sehari-hari yang ringan hal ini didasarkan pada fisik OP yang relatif gemuk dan kurang aktivitas atau ada lemah jantung.Hal ini kurang baik untuk kesehatan, olahraga yang teratur bisa menjadi solusi.Berdasarkan teori bahwa denyut jantung pada saat istirahat sedang dan denyut jantung pada saat aktivitas kuat. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa denyut jantung dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kebugaran fisik dan suhu tubuh.

 

Kesimpulan:

–                Denyut jantung dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kebugaran fisik dan suhu tubuh.

–                Pada saat istirahat irama denyut jantung seharusnya cenderung tidak teratur, sedangkan pada saat aktivitas irama denyut jantung menjadi teratur.

–                Kekuatan denyut jantung seharusnya pada saat istirahat sedang, sedangkan pada saat aktivitas menjadi kuat.

–                Urutan normal bagian-bagian jantung yang berdenyut: kontraksi atrium (sistolik atrium) diikuti oleh kontraksi ventrikel (sistolik ventrikel) dan selama diastolik ke empat ruangan relaksasi.

Debaran jantung atau lebih tepat deparan apex, adalah pukulan ventrikel kiri kepada dinding anterior yang terjadi selama kontraksi ventrikel.

DAFTAR PUSTAKA

 

–                D. J, Refirman dan Trimurtiati. 2005. Bahan Ajar Anatomi Fisiologi Manusia. FMIPA UNJ: Jakarta

–                C. Pearce, Evelyn. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

–                Murtiati, Tri dkk. 2007. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. FMIPA UNJ: Jakarta

–                Ganong, William F. 2001. Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta

–                Lauralee, Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC: Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s