Evolusi Bidang Geologi dan Paleontologi

PENGERTIAN PALEONTOLOGI

Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk bentuk kehidupan yang pernah ada pada masa lampau termasuk evolusi dan interaksi satu dengan lainnya serta lingkungan kehidupannya (paleoekologi)  selama umur  bumi atau dalam skala waktu geologi terutama yang diwakili oleh fosil.Sebagaimana ilmu sejarah yang mencoba untuk menjelaskan sebab sebab dibandingkan dengan melakukan percobaan untuk mengamati gejala atau dampaknya.  Berbeda dengan mempelajari hewan atau tumbuhan yang hidup di jaman sekarang, paleontologi menggunakan fosil atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses -proses alami, sebagai sumber utama penelitian. Oleh karena itu paleontologi dapat diartikan sebagai ilmu mengenai fosil sebab jejak jejak kehidupan masa lalu terekam dalam fosil. Pengamatan paleontologi sudah didokumentasikan sejak abad ke 5 sebelum masehi, dan ilmu ini baru berkembang pada abad ke 18 setelah Georges Cuvier menerbitkan hasil pekerjaannya dalam “Perbandingan Anatomi” dan kemudian berkembang secara cepat pada abad ke 19. Fosil yang dijumpai di China sejak tahun 1990 telah memberi informasi baru tentang yang paling awal terjadinya evolusi binatang-binatang, awal dari ikan, dinosaurus dan evolusi burung dan mamalia.

 

RUANG LINGKUP PALEONTOLOGI

Pada dasarnya ruang lingkup paleontologi  berkisar tentang segala sesuatu yang telah hidup di masa lalu atau bisa dikatakan organisme purba (baik hewan, tumbuhan, protista, jamur maupun bakteri) yang hingga kini sudah punah dan  hanya tertinggal fosil-fosil, jejak peradaban, lingkungan dan peninggalan-peninggalan lainnya. Sehinggga kita hanya meneliti dari jejak-jejak yang tertinggal.Secara umum paleontologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu Paleobotani (tumbuhan  purba) dan Paleozoologi (hewan  purba). Jadi ruang lingkup paleontologi terbagi dalam paleobotani  dan paleozoologi.

1. Paleobotani (Tumbuhan purba)

Paleobotani (dari bahasa Yunani paleon berarti tua dan botany yang berarti ilmu tentang tumbuhan) adalah cabang dari paleontologi yang khusus mempelajari fosil tumbuhan.Kajian Paleobotani meliputi aspek fosil tumbuhan, rekonstruksi taksa, dan sejarah evolusi dunia tumbuhan.Tujuan mempelajari Paleobotani adalah:

  1. Untuk rekonstruksi sejarah dunia tumbuhan. Hal ini dapat dilakukan karena fosil tumbuhan dari suatu kolom geologis tertentu berbeda dengan yang terdapat pada kolom geologis lainnya. Dengan demikian dapat diketahui jenis tumbuhan yang ada dari waktu ke waktu, atau dengan kata lain dapat diketahui sejarahnya, khususnya mengenai kapan kelompok tumbuhan tersebut mulai muncul di muka bumi, kapan perkembangan maksimalnya, dan kapan kelompok tumbuhan tersebut punah.
  2. Untuk keperluan analisa pola dan suksesi vegetasi dari waktu ke waktu.
  3. Untuk analisa endapan dari masa karbon (khususnya yang mengandung sisa tumbuhan), yang berpotensi dalam presiksi sifat- sifat batubara. Dengan demikian dapat diketahui macam batubara serta dari tumbuhan apa batubara tersebut berasal.
  4. Untuk dapat melakukan dedukasi mengenai aspek-aspek perubahan iklim. Dengan cara ini maka dimungkinkan untuk merekonstruksi lingkungan masa lampau beserta perubahan-perubahan yang terjadi, dan juga untuk mempelajari hubungan antara tumbuhan dengan hewan yang menghuni lingkungan tersebut. Salah satu perubahan iklim yang seringkali dapat diungkap dengan pendekatan ini adalah perubahan ternperatur rata-rata.

2. Paleozoologi (Hewan vertebrata dan invertebrata purba)

Paleozoologi (berasal dari bahasa Yunani: paleon = tua dan  zoon = hewan) adalah cabang dari paleontologi atau paleobiologi, yang bertujuan untuk menemukan dan mengindentifikasi fosil hewan bersel banyak dari sistem geologi atau arkeologi, untuk menggunakan fosil tersebut dalam rekonstruksi lingkungan dan ekologi prasejarah. Jadi tujuan dari mempelajari paleozoologi adalah:

  1. Rekonstruksi sejarah kehidupan pada masa lampau baik di bidang hewan dan perkembangan manusia. Proses rekonstruksi kehidupan dilakukan melalui rekonstruksi fosil karena fosil ditemukan dalam lapisan/strata  batuan  yang berlainan sehingga dapat diketahui perkiraan waktu munculnya dan kehidupan makhluk yang telah menjadi fosil tersebut.
  2. Analisa pola dan suksesi suatu vegetasi dari waktu ke waktu. Kehidupan pada masa purba di mana kondisi bumi  yang dinamis  sangat memungkinkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim sehingga mempengaruhi kehidupan spesies dan vegetasi tanaman.
  3. Analisa mengenai aspek-aspek perubahan iklim yang terjadi. Cara ini bermanfaat untuk merekonstruksi dampak perubahan iklim pada lingkungan, mempelajari bagaimana hubungan antara hewan dan tumbuhan yang hidup pada lingkungan tersebut.
  4. Analisa kehidupan biokultural manusia sejak manusia muncul di bumi, proses evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya seluas dan selama mungkin.
  5. Analisa proses adaptif yang dilakukan makhluk hidup terhadap perubahan kondisi lingkungan, makhluk yang mampu beradapatasi akan terus bertahan walaupun peiode waktu geologi terus berjalan sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah. Proses adaptasi membuka zona adaptif yang baru yaitu suatu kumpulan kondisi hidup dan sumber daya baru yang memberikan banyak kesempatan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

 

FOSIL

Berdasarkan asal katanya, fosil berasal dari  bahasa latin  yaitu “fossa”  yang berarti “galian”, adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup  yang menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa -sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup  sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu  ambar, fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur La Brea di California.  Hewan  atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup dan ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi.

Berdasarkan dari definisi fosil, maka fosil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Sisa-sisa organisme. 2. Terawetkan secara alamiah. 3. Pada umumnya padat /kompak/keras. 4. Berumur lebih dari 11.000 tahun. Istilah “fosil  hidup” adalah istilah yang digunakan suatu spesies hidup yang menyerupai sebuah spesies yang hanya diketahui dari fosil. Beberapa fosil hidup antara lain ikan coelacanth  dan pohon  ginkgo. Fosil hidup juga dapat mengacu kepada sebuah spesies hidup yang tidak memiliki spesies dekat lainnya atau sebuah kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki spesies dekat lainnya.Contoh dari kriteria terakhir ini adalah nautilus.

Mempelajari evolusi tidak bisa meninggalkan fosil.Dahulu teori evolusi banyak diuji dengan melihat fosil-fosil yang merupakan peninggalan makhluk hidup pada masa lalu. Tetapi perlu diketahui juga bahwa CharlesDarwin ketika membuat buku “the origin of species” tidak diawali dengan fosil namun lebih banyak memanfaatkan fenomena burung-burung di Galapagos.Perkembangan  teori evolusi saat ini sudah menggunakan bermacam-macam metode mutahir, tetapi jelas tidak hanya kearah masa kini dengan

memanfaatkan DNA saja.

 

PROSES TERBENTUKNYA FOSIL

Batuan sedimen terbentuk dari lapisan mineral yang mengendap dan memisah dari air. Pasir dan endapan lumpur yang sudah lapuk dan tererosi dari tanah dibawa oleh sungai ke laut atau rawa, dimana partikel-partikel itu akan mengendap ke bagian dasar. Sedimen akan menumpuk dan menekan endapan yang lebih tua di bawahnya menjadi batu, pasir menjadi batu pasir dan lumpur menjadi serpihan. Ketika kehidupan akuatik dan organisme darat yang terbawa ke lautan dan rawa itu mati, organisme yang mati tersebut akan mengendap juga bersama-sama dengan sedimen tadi. Sebagian kecil dari mereka akan terawetkan menjadi fosil. Di lokasi manapun, sedimentasi tidak berlangsung secara terus menerus, tetapi terjadi secara berkala ketika permukaan laut berubah atau ketika danau dan rawa mengering dan terisi kembali dengan air.Bahkan ketika suatu daerah terendam, laju sedimentasi dan jenis partikel sedimen bervariasi seiring dengan waktu. Sebagai akibat dari periode sedimentasi yang berbeda ini, batu-batuan akan terbentuk berlapis-lapis.

Bahan organik dari organisme mati yang terkubur dalam sedimen tersebut umumnya terurai dengan cepat. Namun demikian, bagian keras yang kaya akan mineral, seperti cangkang invertebrate dan Protista, serta tulang-tulang dan geligi vertebrata, bias tetap bertahan sebagai fosil. Para ahli palaentologi telah berhasil menggali kerangka dinosaurus yang hamper sempurna dan fosil dalam bentuk lain, namun seringkali suatu temuan itu terdiri dari bagan-bagian tengkorak, fragmen tulang, atau geligi. Banyak di antara relika ini menjadi lebih keras lagi dan terawetkan oleh perubahan-perubahan kimia, dalam keadaan yang tepat, mineral yang larut dalam air tanah akan merembes ke dalam jaringan orgisme yang telah mati itu menggantikan bahan organiknya. Tumbuhan dan hewan tersebut kemudian berubah menjadi batu.

JENIS FOSIL

Menurut ahli paleontologi ada beberapa jenis fosil tetapi secara umum ada dua macam jenis fosil yang perlu diketahui, yaitu fosil yang merupakan bagian dari organisme itu sendiri dan fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya.

1. Fosil yang berasal dari organismenya sendiri

Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan, dapat berupa tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang “keras”.Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan.misalnya fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan).

2.  Fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya

Fosil jenis ini sering juga disebut sebagai trace fosil  (fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa -sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau  tumbuhan itu sendiri. Adapun jenis fosil jejak antara lain “coprolite” (fosil bekas kotoran binatang) dan “trail and tracks” (fosil bekas jejak langkah binatang). Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang dapat berbentuk cetakan, berupa cetakan bagian dalam (internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould  dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu.

MENENTUKAN USIA FOSIL

Fosil merupakan data historis yang handal hanya jika kita dapat menentukan umurnya. Penentuan usia fosil umumnya dilakukan dengan cara penentuan usia relative dan penentuan usia absolut.

1.    Penentuan Usia Relatif

Terjebaknya organisme mati dalam sedimen akan membekukan fosil untuk selamanya. Dengan demikian, fosil yang terdapat dalam lapisan batuan sedimen itu merupakan contoh lokal organisme yang hidup pada waktu sedimen itu diendapkan. Karena sedimen yang lebih muda akan menekan sedimen yang lebih tua, tebal lapisan ini akan memberitahu kita berapa usia relative fosil tersebut.

Strata pada satu lokasi seringkali berkorelasi dengan strata pada lokasi lain melalui kehadiran fosil yang sama, yang dikenal sebagai fosil indeks (gambar 3). Fosil Indeks adalah organisme yang hadir selama periode waktu tertentu dimana  kemunculan dan kepunahannya  pada periode waktu yang terbatas. Fosil Indeks  dipakai sebagai pedoman dalampenentuan umur batuan dimana fosil tersebut terawetkan. Fosil indeks terbaik untuk menghubungkan strata yang letaknya berjauhan adalah cangkang hewan laut yang tersebar luas.Pada gambar 3 diperlihatkan daftar fosil indeks yang digunakan sebagai kunci pada skala waktu geologi.

Dengan mempelajari banyak tempat yang berbeda, para ahli geologi telah membuat suatu skala waktu geologis dengan urutan masa-masa sejarah yang konsisten (gambar 4).Masa-masa (period) ini dikelompokkkan ke dalam empat zaman (era) yaitu zaman prakambrium, paleozoikum, mesozoikum, dan senozoikum.Masing-masing zaman mewakili waktu yang berbeda dalam sejarah Bumi dan kehidupannya; perbatasannya ditandai dalam catatan fosil melalui radiasi eksplosi dengan banyak bentuk kehidupan baru.Kepunahan massal juga menandakan banyaknya batasan antara masa dan zaman.Sebagai contoh, permulaan masa Kambrium digambarkan oleh suatu keanekaragaman besar hewan terfosilisasi yang tidak ada dalam batuan pada akhir zaman Prakambrium.Sebagian besar hewan yang hidup mendekati akhir zaman Prakambrium punah pada akhir zaman tersebut.Masa di dalam masing-masing zaman itu kemudian dibagi lagi menjadi interval yang lebih sempit yang disebut dengan kurun (epoch) (hanya kurun pada zaman sekarang).

Rekaman batuan adalah suatu rangkaian yang mencatat umur relatif fosil; rekaman ini memberikan informasi tentang urutan suatu kelompok spesies digambarkan dalam suatu urutan strata yang berevolusi.Namun demikian, rangkaian batuan sedimen tidak memberitahukan umur absolut fosil yang terkubur.

 

  1. 1.    Penentuan Usia Absolut

Penentuan usia absolut tidak dapat diartikan sebagai penentuan usia tanpa kesalahan. Dalam penentuan usia ini, umur dinyatakan dalam tahun dan bukannya dalam istilah relatif. Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan usia absolut adalah sebagai berikut:

  1. Penanggalan Radiokarbon( mengukur usia hingga 14.300 tahun )

Menurut definisi, setiap atom dari elemen tertentu memiliki sejumlah tertentu proton pada intinya.Misalnya unsur karbon memiliki enam proton, tetapi jumlah neutron dalam inti dapat bervariasi.Iniberbeda dengan bentuk elemen yang disebut isotop secara inheren bisa stabil atau tidak stabil. Yang tidak stabil disebut isotop radioaktif, dan dari waktu ke waktu mereka akan membusuk, membentukpartikel (neutron atau proton) dan energi (radiasi) karena itu berubah menjadi isotop atau elemen lain. Mereka melakukan ini dengan laju yang konstan disebut isotop “setengah-hidup (half life)”.

Kebanyakan unsur karbon berada dalam bentuk stabil karbon-12 (12C)- (enam proton, enam neutron) atau karbon-13(13C), namun sejumlah yang sangat kecil (sekitar 0,0000000001%) ada sebagai radioaktif karbon-14(14C)-(enam proton, delapan netron).Tumbuhan hidup dan hewan terdiri dari 14C bersama dengan isotop karbon lainnya, tetapi ketika mereka mati dan fungsi metabolis mereka berhenti, mereka berhenti menyerap karbon. Seiring dengan itu, 14C meluruh menjadi nitrogen-14(14N); setengahnya akan terjadi setelah sekitar 5730 tahun (ini adalah isotop yang setengah-hidup), setelah sekitar 60.000 tahun, semua 14C akan hilang.

Segala sesuatu yang suatu ketika dulu merupakan bagian dari obyek kehidupan seperti arang,kayu, tulang, tepung sari atau kotoran yang memfosil (coprolites) yang ditemukan dapat dikirim kelaboratorium, dimana para ilmuwan dapat mengukur berapabanyak 14C yang masih tersisa.Karena mereka mengetahui berapa banyak yang ada di atmosfer dan, oleh karena itu, berapa banyak seseorang telah menyerapnya selama hidupnya.Sehingga mereka bisa menghitung berapa lama telah mati atau dari banyaknya pengendapan.Coprolite rata-rata berumur sekitar 14.300 tahun, tapi ada juga yang berusia lebih dari itu.

Penanggalan Karbon telah dikembangkan oleh ilmuwan Amerika Willard Libby dan teamnya di Universitas Chicago pada 1962, yang berhasil mengkalkulasi lebih akurat 5730 dengan +/- 40 tahun (Libby half-life).

 

  1. Penanggalan Argon-Argon

(mengukur usia kira-kira 154.000 s/d 160.000 tahun)

Metode penanggalan Radiokarbon bekerja dengan baik untuk beberapa penemuan arkeologi, namun memiliki keterbatasan, sampai saat ini hanya dapat digunakan untuk mengukur usia bahan organik kurang dari sekitar 60.000 tahun. Namun, ada isotop radioaktif lain yang dapat digunakan untuk mengukur usia bahan non-organik (seperti batu) dan bahan-bahan yang lebih tua (sampai miliarantahun).

Salah satu dari radioisotop ini adalah adalah kalium- 40, yang dapat ditemukan di batuan vulkanik. Setelah batu vulkanik mendingin, kalium- 40(40K) akan meluruh menjadi argon-40(40Ar) dengan waktu paruh 1,25 miliar tahun. Dengan ratio ini memungkinkan untuk mengukur rasio 14K terhadap 40Ar,dengan ini dapat diperkirakan umur batu tersebut, tetapi metode ini kadang kurang tepat. Namun, pada 1960 para ilmuwan menemukan satu cara bahwa jika sampel batu tersebut disinari dengan neutron, maka terjadi 40K berubah menjadi Argon- 39(39Ar), sebuah isotop tidak mudah ditemukan di-alam tapi lebih mudah untuk diukur.

Walaupun lebih rumit, proses ini menghasilkan pengukuran usia yang lebihtepat. Sebagai contoh, para ilmuwan dari Universitas California di Berkeley mampu mengukurusiasampel batuan dari letusan tahun 79M dari gunung berapi Vesuvius, letusan yang terjadi dalam kurun waktu 7 tahunan. Ketika pada tahun 1997 mereka menemukan peralatan dari batu, dan fosil sisa-sisabeberapa jenis hewan, termasuk kuda nil, dan tiga tengkorak hominid, yang tidak dapat diukur dengan14C karena usianya terlalu tua.

Karena tengkorak Hominid dan artefak yang ditemukan di Herto tidak dapat diukur usianya secara langsung karena bahan-bahan organiknya telah lama memfosil menjadi batu.Maka para ilmuwan meneliti batuan-batuan dan pasir vulkanik yang menempel dan mengubur fossil tersebut. Hasil pengukuran batuan ini menunjukkan usia sekitar 154.000 sampai dengan 160.000 tahun, dengan demikian tengkorak tersebut dapat disimpulkan berusia sekitar tahun yang sama, sehingga Homo Sapien ini dapat dianggap yang tertua yang telah ditemukan selama ini.

 

  1. Penanggalan Termoluminisen/Thermoluminescence

(mengukur usia lebih dari 77.000 tahun )

Seperti dalam Penanggalan Argon-Argon, metode penanggalan Termoluminisen ini dialakukan dengan cara sampel dipanasi dengan suhu tinggi, kemudian dihitung/diamati mulai dari sejak mula dipanasi. Dengan pemanasan suhu ekstrim tinggi menyebabkan sebagian elektron yang terdapat pada kristal tertentu seperti kuarsa dan felspar dalam batuan tereliminir, sedang seiring dengan lepasnya elektron tersebut maka dapat ditemukan jumlah jejak atom radioaktif yang ditemukan dilingkungannya. Dengan cara memanasi ulang batuan tersebut ilmuwan dapat melepaskan energi yang tersimpan, yang berupa pelepasan sebekas cahaya, ini yang dinamakan “Termoluminisen”. Intensitas cahaya menunjukan Intensitas cahaya menunjukkan berapa lama batuan tersebut sejakterakhir telah dipanaskan.

Begitu seekor organisme hidup mati, ia berhenti memproduksi karbon baru. Perbandingan carbon-12 dengan carbon-14 di saat kematian sama untuk setiap mahluk hidup, namun carbon- 14 meluruh dan tidak tergantikan. Peluruhan carbon-14 memiliki waktu paruh 5.700 tahun, sementara jumlah carbon-12 tetap dalam sampel. Dengan melihat eprbandingan carbon-12 dengan carbon-14 pada sampel dan membandingkannya dengan perbandingan dalam organisme hidup, adalah mungkin menentukan usia mahluk yang dulunya hidup ini dengan cukup teliti.

Karena waktu paruh carbon-14 5.700 tahun, ia hanya sah untuk penentuan usia benda hingga 60.000 tahun. Walau demikian, prinsip carbon-14 berlaku pada isotop lainnya pula. Potassium- 40 adalah unsur radioaktif lainnya yang alami ditemukan dalam tubuh anda dan memiliki waktu paruh 1,3 miliar tahun. Radioisotop lainnya yang berguna untuk penanggalan radioaktif termasuk Uranium-235 (waktu paruh = 704 juta tahun), Uranium-238 (Waktu paruh = 4,5 miliar tahun), Thorium-232 (waktu paruh = 14 miliar tahun) dan Rubidium-87 (waktu paruh = 49 miliar tahun).

PEMBUKTIAN EVOLUSI DALAM BIDANG PALAENTOLOGI

Apabila kita telusuri fosil-fosil yang terkandung dalam  lapisan batuan, mulaidari  lapisan yang termuda hingga ke lapisan yang tertua, maka kita akan sampai pada suatu lapisan dimana salah satu spesies fosil tidak  ditemukan  lagi. Hal ini menandakan bahwa spesies fosil tersebut belum muncul (lahir) atau spesies fosil tersebut  merupakan  hasil  evolusi  dari spesies  yang lebih  tua atau yang  adapada saat itu. Dengan kata lain dapat  disimpulkan bahwa kemunculan suatu  spesies  merupakan hasil evolusi dari spesies sebelumnya dan hal ini dapat kita ketahui melalui  pengamatan fosil-fosil  yang terekam di dalam lapisan-lapisan batuan sepanjang sejarah bumi.  Apabila penelusuran kita lanjutkan hingga ke lapisan batuan yang paling tua, maka kita akan sampai pada suatu keadaan dimana tidak satupun fosil  ditemukan,  apakah itu  fosil yang berasal dari  reptil, burung,  mamalia, vertebrata berkaki empat, tumbuhan darat, ikan, cangkang, dan atau binatang lainnya.  Berdasarkan hal tersebut,

maka ketiga prinsip utama diatas dapat kita  sintesakan  menjadi satu prinsip yang berlaku  secaraumum yang disebut sebagai Hukum Suksesi Fosil (Law Faunal Succession).

Prinsip suksesi fauna yang juga dikenal dengan hukum suksesi fauna didasarkan atas hasil pengamatan pada perlapisan batuan sedimen yang mengandung fosil dan fosil-fosil tersebut masing masing satu dan lainnya secara vertikal memunjukan urutan yang khas/spesifik yang dapat ditelusuri secara luas.Hal ini memungkinkan perlapisan dapat diidentifikasi dan ditentukan umurnya oleh fosil yang ada dalam batuan.Dengan menerapkan hukum superposisi, fosil yang terdapat dalam batuandapat untuk menentukan urutan waktu saat batuan tersebut diendapkan.Dengan teori evolusi maka urut-urutan fosil yang terawetkan dalam batuan dapat dipahami.

Pada abad ke 18 dan 19, seorang ahli geologi berkebangsaan Inggris William Smith dan ahli paleontologi Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart dari Perancis, menemukan batuan-batuan yang berumur sama serta mengandung fosil yang sama pula, walaupun batuan-batuan tersebut letaknya terpisah cukup jauh. Mereka kemudian menerbitkan peta geologi berskala regional dari daerah yang batuannya mengandung fosil yang sama. Melalui pengamatan yang teliti pada batuan serta fosil yang dikandungnya, mereka juga mampu mengenali batuan-batuan yang umurnya sama pada lokasi yang berlawanan di selat Inggris. William Smith juga mampu menerapkanpengetahuannya tentang fosil dalam setiap pekerjaan secara praktis di lapangan.Sebagai seorang teknisi, William Smith adalah orang yang berhasil membangun sebuah kanal di Inggris yang kondisi medannya tertutup oleh vegetasi yang cukup lebat serta singkapan batuan yang sangat sedikit. Untuk itu ia harus mengetahui batuan batuan apa saja yang ada di dalam dan diatas bukit, karena melalui bukit inilah kanal akan dibangun. William Smith dapat mengetahui berbagai jenis batuan yang akandijumpai dibawah permukaan dengan cara mengkaji fosil-fosil yang diperoleh dari batuan-batuan yang tersingkap di lereng lereng bukit dengan cara menggali lubang kecil untuk mengambil fosil. Seperti halnya dengan William Smith dan lainnya, pengetahuan suks esi dari bentuk kehidupan yang terawetkan sebagai fosil sangat berguna untuk memahami bagaimana dan kapan suatu batuan terbentuk.

Wilian Smith mengamati bahwa fosil hewan invertebrate yang diketemukan  pada perlapisan batuan muncul dalam urutan yang dapat diperkirakan. Dari  hasil  penelitian ini, hukum suksesi fauna dikembangkan dan menyatakan bahwa fosil terjadi dalam urutan yang pasti, tidak berubah dalam rekaman geologi. Pada gambar 6terlihat  kumpulan  fosil yang hadir dalam lapisan batuan pada interval waktu tertentu dan dalam jangka jangka waktu yang diskrit. Dengan menggunakan hukum superposisi maka dapat disimpulkan bahwa batuan B lebih tua dibandingkan batuan A.

Hukum suksesi fauna (fosil) sangat penting bagi para ahli geologi yang ingin mengetahui umur batuan saat melakukan penelitian.Kehadiran fosil pada suatu singkapan batuan atau batuan yang berasal dari inti bor dapat dipakai untuk menentukan umur batuan secara akurat. Kajian yang rinci dari berbagai macam jenis batuan yang diambil di berbagai lokasi akan menghasilkan beberapa jenis fosil yang mempunyai kisaran hidup yang relatif pendek dan fosil jenis ini disebut sebagai fosil indek. Saat ini, binatang dan tumbuhan yang hidup di lingkungan laut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan yang hidup di lingkungan darat, demikian juga dengan binatang atau tumbuhan yang hidup di salah satu bagian yang ada di lingkungan laut atau di lingkungan darat akan berbeda pula dengan binatang atau tumbuhan yang hidup di lokasi lainnya pada lingkungan laut ataupun darat. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi para ahli untuk mengenalinya dalam batuan yang umurnya sama ketika salah satu batuan diendapkan di lingkungan darat dan batuan lainnya diendapkan pada lingkungan laut dalam. Para ahli harus mempelajari fosil-fosil yang hidup di berbagai lingkungan sehingga diperoleh suatu gambaran yang lengkap dari binatang ataupun tumbuhan yang hidup pada periode waktu tertentu di masa lampau.

 

BUKTI-BUKTI PALEONTOLOGI YANG MENGUATKAN TENTANG EVOLUSI

Bukti dari paleontologi yang menguatkan tentang evolusi adalah fosil-fosil yang menunjukkan bahwa kehidupan di masa lalu berbeda bentuknya dengan kehidupan masa sekarang dan evolusi kuda, karena Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jejak kehidupan zaman purba, maka fosil merupakan bukti yang kuat dari ilmu paleontologi tersebut. fosil adalah sisa kehidupan purba yang terawetkan secara alamiah dan terekam pada bahan-bahan dari kerak bumi.sisa kehidupan tersebut dapat berupa cangkang binatang,jejak atau cetakan yang mengalami pembentukan atau penggantian oleh mineral. Kegunaan fosil adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menentukan umur batuan atau fosil
    fosil yang ditemukan dalam batuan mempunyai selang waktu tertentu.dengan membandingkan urutan perlapisan(batuan sedimen)dan kandungan fosilnya dapat ditentukan umur relatif suatu lapisan terhadap yang lain.untuk menentukan umurbatuan kita gunakan plankton.
  2. Untuk mengkorelasi batuan
    korelasi adalah prinsip menghubungkan lapisan yang sama pada batuan.dengan melihat kumpulan fosil yang sama pada satu lapisan yang lain,maka dapat dihubungkan suatu garis kesamaan waktu pembentukan batuan tersebut.
  3.  Menentukan lingkungan pengendapan
    Beberapa binatang dapat dipelajari lingungan hidupnya(misalnya laut dalam,air payau,darat,dsb)hal ini akan membantu didalam merekonstruksi paleografi dan pembentukan batuannya.untuk menentukan lingkungan pengendapan kita gunakan benkton.

Literatur lain menyebutkan bahwa sebelum Wegener, para ahli paleontologi pernah mengumpulkan data yang memperlihatkan keserupaan flora dan fauna dari Benua Amerika Selatan dan Benua Afrika. Data-data tersebut memberikan bukti bahwa memang ada gabungan benua sehingga adanya keserupaan flora dan fauna di kedua benua tersebut.

One thought on “Evolusi Bidang Geologi dan Paleontologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s