10 Wasiat Hasan Al Banna

2Assalamu’alaikum sahabat sketsaist.. Tulisan ini saya persembahkan untuk semua saudaraku semuslim seiman, karena persaudaraan dengan iman melebihi persaudaraan pertalian darah, di mana pun kalian berada. Semoga Allah selalu memberikan Rahmat-Nya untuk kita semua. Tulisan ini memuat 10 Wasiat tokoh Muslim dunia Hasan Al Banna. Penyajian yang berbeda karena dikaitkan langsung dengan kisah para sahabat pada zaman Rasulullah. Materi ngaji mandiri di rumah ukhti Susi, di tambah dengan sumber-sumber bacaan lainnya. Semoga bermanfaat.

Bismillahirrahmaan nirrahiim

10 Wasiat Hasan Al Banna

  1. Bersegera Melaksanakan shalat bagaimanapun kondisi anda.

Saudaraku, para sahabat rasullullah selalu berlomba dalam melaksanakan ibadah yang paling utama ini, karena shalat merupakan tiang agama Islam, ingatkah kita akan kisah shahabat .Umar bin Khattab, yang selalu menangis, memohon ampunan pada Allah SWT setelah tahajudnya. Hingga meninggalkan bekas linangan air mata di pipi Beliau. Adapun Aisyah r.a , Ummahatul muslimin selain cerdas juga seorang muslimah yang taat dan sangat rajin beribadah. Saat ia shalat malam ia pernah mengikatkan dirinya dengan tali ke tiang agar ia kuat berdiri untuk shalat. Ia sangat sedih ketika dirinya haid sehingga ia tidak bisa melaksanakan shalat. Rasulullah pun menguatkannya, bahwa memang hal ini adalah ketetapan Allah bagi seorang perempuan.

2. Bacalah Al-Qur’an, cermati, dengarkan, atau berdzikir pada Allah jangan habiskan waktumu untuk hal yang tidak berguna.

Rasulullah sedang berjalan bersama sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab,menuju tempat rapat, lalu Rasulullah mendengar suara seorang shahabat lainnya sedang membaca Al-Qur’an di masjid, beliau berhenti sejenak dan terlihat khidmat mendengarnya, Tau kan karakter Umar kaya apa, “Ayo ya rasullullah, kita harus rapat nih. Ini lebih penting” celotehnya (Gitu lah kiranya kalau pake bahasa gaulnya), “Sabar ya Umar, mendengarkan ia membaca Al-Qur’an lebih penting dari rapat kita”

3. Bersungguh-sungguhlah berbahasa arab yang fasih karena itu syiar Islam. Sobat sketsa kenal ga dengan Mus’ab bin Umair r.a? Ia sudah dapat menguasai lima  bahasa dunia hanya dalam waktu beberapa hari saja dan hal itu sangat memudahkannya dalam menyebarkan syiar Islam. Zaid bin Tsabit menguasai bahasa Ibrani hanya dalam waktu 14 hari.

4. Janganlah banyak berdebat dalam segala hal karena tidak mendatangkan kebaikan. Imam Syafi’i, beliau hidup tidak pada zaman rasullullah. Sang imam dikenal tidak suka berdebat, namun ia hanya ingin menghargai lawan bicaranya, mungkin saja terdapat kebenaran pada seorang yang sedang ia hadapi ini. Imam tidak langsung menghakimi bahwa lawan bicaranya salah dan dirinyalah yang benar.

5. Janganlah banyak tertawa karena hati yang tersambung dengan Allah akan tenang dan teduh.

6. Jangan banyak bercanda karena umat pejuang hanya mengenal keseriusan. Umar bin Khattab sebelum wafat menasehati Ali bin Abi Thalib akan sifatnya yang suka berkelakar. Siapakah yang lebih mengenal kita?

7. Jangan besarkan suaramu melebihi hajat pendengar.

8. Jauhilah menggunjing, melukai pihak lain. Jangan bicara kecuali kebaikan.

Abu Bakar menemui Rasulullah sambil menangis, ia menceritakan hal yang baru saja dialaminya, “Ya rasullullah, aku baru saja menyakiti Umar, lalu aku bersegera meminta maaf. Aku mengetuk pintu rumahnya hingga tiga kali tapi ia tidak membukakan pintu untukku”.. Umar datang, ia berdiri di depan pintu masjid, Rasullullah berkata” Janganlah kalian menyakiti Abu Bakar, karena ketika setiap dari kalian tidak mempercayaiku, Abu Bakarlah satu-satunya orang yang mempercayaiku, Abu Bakar telah Islam lebih dahulu sebelum kalian berislam” Abu Bakar berkata, “Bukan aku yang disakiti ya rasullullah, tapi aku yang menyakiti Umar” sambil menangis. Perkataan rasullullah membuktikan kecintaannya pada Abu Bakar, sehingga beliau tidak ingin ada orang yang menyakitinya, hal ini sangat mengena di hati Umar yang masih ada di depan pintu masjid.

9. Berkenalanlah dengan siapa yang engkau temui dari saudaramu karena asas dakwah kita cinta dan saling mengenal.

Al kisah seorang muslim yang sedang shalat dan mengikat kudanya di dekat tempat ia melaksanakan shalat. Kuda miliknya memakan rumput milik orang lain, karena marah pemilik rumput membunuh kuda sang muslim yang sedang shalat. Setelah selesai melaksanakan shalatnya sang muslim naik pitam karena kudanya dibunuh dan dia pun akhirnya secara tidak sengaja membunuh pemilik rumput. Ia kemudian bersedia di qhishas . Anak dari pemilik rumput membawanya kepada amirul mukminin Umar bin Khattab, Ia pun mengaku pada Umar bahwa ia telah membunuh seorang muslim dan bersedia di qhishas akan tetapi ia meminta tenggat waktu untuk pelaksanaan qhishas, dirinya adalah pedagang di madinah, ia ingin kembali ke negerinya mengurus perihal pembagian untung dengan pemilik modal usahanya serta mengurus perihal anak dan dan isterinya. Lalu Umar memberinya tenggat waktu 3 hari, namun ia harus memberi jaminan seorang muslim juga sebagai pengganti jika ia tidak juga kembali.

Ia pun bingung, ia sama sekali tidak memiliki saudara di madinah. Seketika itu Salman al Farisi datang mengajukan diri bahwa ia bersedia menjadi pengganti bagi pedagang tersebut. Umar pu menangis, mengapa harus Salman sebagai penggati, Namun Salman ikhlas melakukannya, ia bersedia dibunuh sekiranya pedagang tidak kembali.

Pedagang tersebut pun pulang ke negerinya. Pada hari keputusan menjelang maghrib, sang pedagang belum juga datang. Para muslim berkumpul dengan cemas akan nasib Salman. Namun pada akhirnya sang pedagang datang dengan terengah-engah, ia menjelaskan bahwa kudanya kelelahan di padang pasir dan akhirnya ia berjalan menuju madinah. Sang khalifah bertanya mengapa ia kembali, padahal ia bisa saja melarikan diri. Lalu ia menjawab, “Aku tidak ingin dikenal sebagai seorang muslim yang tidak memenuhi janjinya”, para muslim madinah terkejut akan jawaban si pedagang. Umar pun bertanya pada Salman Al Farisi, mengapa ia bersedia menjadi pengganti qhishas untuk orang yang belum dikenalnya. Salman menjawab “Aku hanya ingin agar setiap seorang muslim mempercayai saudaranya” karena sedari awal ia tau ada kebaikan pada diri si pedagang. Para muslim madinah pun menangis mendengar jawaban Salman. Tiba-tiba anak dari pemilik rumput angkat bicara, “Dan saya tidak ingin dikenal sebagai seorang muslim yang tidak mau memaafkan saudaranya” Akhirnya si pedagang tidak jadi di qhishas. Subhanallah.

Jika saja setiap seorang muslim saling mempercayai di dalam kebaikan maka kebaikan pula yang akan didapat.

10. Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia, bantu orang lain agar dia dapat memanfaatkan waktunya. Jika kau bekerja, maka ringkaslah dalam pengerjaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s